Senin, 14 Februari 2011

PENGARUH pH AIR TERHADAP PERKEMBANGAN AKTIVITAS LARVA KATAK

PENGARUH pH AIR TERHADAP PERKEMBANGAN AKTIVITAS LARVA KATAK


FITRIA
(A1C409044)












PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2010


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji syukur penulis curahkan kehadiraat Allah SWT yang mana sampai saat ini tak henti-hentinya memberikan limpahan nikmat kesehatan sehingga penulisan karya ilmiah dengan judul Pengaruh Ph Air Terhadap Perkembangan Aktivitas Larva Katak dapat terselesaikan dengan baik. Adapun penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai syarat untuk mengikuti ujian praktikum perkembangan hewan program studi pendidikan biologi universitas jambi tahun 2010
Pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian karya ilmiah ini terutama kepada Rita Yuliza selaku pembimbing sekaligus asisten praktikum perkembangan hewan penulis ucapkan terimakasih atas bimbingan , kritik dan sarannya sehingga karya ilmiah ini dapat menjadi karya ilmiah yang baik, dan kepada rekan-rekan sekelas yang telah mau bekerja sama dan memberikan bantuan. Semoga apa yang telah diberikan akan mendapat nilai pahala dari Allah SWT.
Dalam penulisan karya ilmiah ini mungkin terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya ilmiah ini dapat memberi manfaat



Jambi, Desember 2010



Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………….…………………… i
DAFTAR ISI………………………………………………………………….ii
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………….. 2
1.3 Hipotesis………………………………………………….………… 2
1.4 Tujuan Penelitian…………………………………………….……... 2
1.5 Manfaat Penelitian………………………….………………………. 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA………………………………………………..4
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan…………………………………………………….. 13
3.2 Prosedur Kerja………………………………………………...…... 13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian……………………………………………………. 14
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian……………………………………… 17
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan…………………………………....…………………… 19
5.2 Saran………………………………………………………………... 19
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


DAFTAR GAMBAR


Gambar 4.1……..…………………………………………………14

Gambar 4.2 …...………………………………………………….14

Gambar 4.3……………………………………………………….15

Gambar 4.4………………………………………………………15

Gambar 4.5………………………………………………………15

Gambar 4.6………………………………………………………16

Gambar 4.7………………………………………………………16















I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

pH merupakan suatu ekpresi dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air. Besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H.Sebagai contoh, kalau ada pernyataan pH 6, itu artinya konsentrasi H dalam air tersebut adalah 0.000001 bagian dari total larutan. Karena untuk menuliskan 0.000001 (bayangkan kalau pH 14) terlalu panjang maka orang melogaritmakan angka tersebut
sehingga manjadi -6. Tetapi karena ada tanda - (negatif) dibelakang angka tersebut, yang dinilai kurang praktis, maka orang mengalikannya lagi dengan tanda - (minus) sehingga diperoleh angka positif 6. Oleh karena itu, pH diartikan
sebagai "-(minus) logaritma dari konsenstrasi ion H".Yang perlu diperhatikan adalah bahwa selisih satu satuan angka pH itu artinya perbedaan kosentrasinya adalah 10 kali lipat. Dengan demikian, apabila selisih angkanya adalah 2 maka perbedaan konsentrasinya adalah 10x10 = 100 kali lipat. Sebagai contoh pH 5 menunjukkan konsentrasi H sebanyak 0.00001 atau 1/100000 (seperseratus ribu) sedangkan pH 6 = 0.000001 atau 1/1000000 (sepersejuta).
Dengan demikian kalau kita menurunkan pH dari 6 ke 5 artinya kita meningkatkan kepekatan iob H+ sebanyak 10 kali lipat. Kalau kita misalkan pH itu gula, maka dengan menurunkan pH dari 6 ke 5, sama artinya bahwa larutan tersebut sekarang 10 kali lebih manis dari pada sebelumnya.
Tidak semua mahluk bisa bertahan terhadap perubahan nilai pH, untuk itu alam telah menyediakan mekanisma yang unik agar perubahan tidak tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan cara perlahan. sistem pertahanan ini dikenal sebagai kapasitas pem-buffer-an.
Ph sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain itu ikan dan mahluk-mahluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan mereka.
Besaran pH berkisar dari 0 (sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalis). Nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa (alkalin). Sedangkan pH = 7 disebut sebagai netral.
Fluktuasi pH air sangat di tentukan oleh alkalinitas air tersebut. Apabila alkalinitasnya tinggi maka air tersebut akan mudah mengembalikan pH-nya ke nilai semula, dari setiap "gangguan" terhadap pengubahan pH.

Dengan demikian kunci dari penurunan pH terletak pada penanganan alkalinitas dan tingkat kesadahan air. Apabila hal ini telah dikuasai maka penurunan pH akan lebih mudah dilakukanDari uraian di atas maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang “PENGARUH PH AIR TERHADAP PERKEMBANGAN AKTIVITAS LARVA KATAK”

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah ang telah ditemukan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh PH air terhadap perkembangan aktivitas larva katak?

1.3 Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh PH air tehadap perkembangan aktivitas larva katak

1.4 Tujuan Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh PH air tehadap perkembangan aktivitas larva katak.



1.5 Mamfaat hasil penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:Pada bidang pendidikan dapat menjadi materi tambahan untuk desain praktikum mata kuliah perkembangan hewan pada program studi Pendidikan Biologi.


























II
KAJIAN PUSTAKA

pH dan Air

Pada dasarnya, nilai pH menunjukkan apakah air memiliki kandungan padatan rendah atau tinggi. pH dari air murni adalah 7. Secara umum, air dengan nilai pH lebih rendah dari 7 dianggap asam dan nilai pH lebih dari 7 dianggap basa. Nilai pH normal untuk air permukaan biasanya antara 6,5 s/d 8,5 dan air tanah dari 6 s/d 8,5.
Alkalinitas adalah ukuran kapasitas air untuk bertahan dari perubahan pH yang mungkin terjadi dan membuat air menjadi lebih asam. Ukuran dari alkalinitas dan pH air diperlukan untuk menilai ke-korosifan dari air. Secara umum, air dengan nilai pH rendah (<6,5) berupa asam, mengandung padatan rendah, dan korosif. Karena itu, air seperti ini mengandung ion logam seperti besi, mangan, tembaga, timbal, dan seng .. atau dengan kata lain logam beracun tingkatan tinggi. Ini dapat menyebabkan kerusakan dini pada pipa logam, dan memiliki masalah berhubungan dengan rasa yang asam atau rasa logam, noda pada baju, dan noda pada tempat cucian di dapur dan pembuangan. Yang lebih penting, ada suatu resiko kesehatan yang berhubungan dengan racun ini. Cara utama untuk menyelesaikan masalah pH rendah ini adalah dengan penggunaan penetralisir. Penetralisir menyalurkan suatu larutan dalam air untuk mencegah air bereaksi dengan sistem perpipaan pada rumah tangga yang membuat korosi pada barang elektronik. Kimia penetralisir adalah soda api. Penetralisiran dengan soda api akan menaikkan kandungan natrium dari air. Air dengan pH >8,5 mengindikasikan air mengandung padatan tinggi. Air padatan tinggi tidak menyebabkan resiko pada kesehatan, tetapi dapat menimbulkan masalah pada keindahan. Masalah ini berupa rasa alkali pada air (membuat kopi menjadi lebih pahit),formasi pada piring, peralatan, wadah pencuci, kesulitan untuk membuat sabun dan detergen berbusa, dan formasi dari presipirasi yang tidak larut pada baju.
Menurut penelitian Universitas Wilkes, karena hubungan antara pH dengan gas dan suhu, dianjurkan contoh air diperiksa secepat mungkin. Penelitian ini menyatakan bahwa pH air bukan sebuah ukuran dari kekuatan asam atau basa, dan tidak dapat menyediakangambaran yang lengkap tentang karakteristik air(Iskandar:1998).
Penanganan pH
Seperti disebutkan sebelumnya, pengananan atau pengubahan nilai pH akan lebih efektif apabila alkalinitas ditanganai terlebih dahulu. Berikut adalah beberapa cara pangananan pH, yang kalau diperhatikan lebih jauh, cenderung mengarah pada penanganan kesadahan atau alkalinitas.

Penurunan pH

Untuk menurunkan pH, pertama kali harus dilakukan pengukuran KH. Apabila nilai KH terlalu tinggi (12 atau lebih) maka KH tersebut perlu diturunkan terleibh dahulu, yang biasanya secara otomatis akan diikuti oleh menurunnya nilai pH. Apabila nilia pH terlalu tinggi (lebih dari 8) sedangkan KH tergolong bagus ( antara 6 -12)maka hal ini merupakan petunjuk terjadinya proses keseimbangan yang buruk.
Penurunan pH dapat dilakukan dengan melalukan air melewati gambut (peat), biasanya yang digunakan adalah peat moss (gambut yang berasal dari moss). bisa juga dilakukan dengan mengganti sebagaian air dengan air yang berkesadahan rendah, air hujan atau air yang direbus, air bebas ion, atau air suling (air destilata).
Selain itu bisa juga dapat dilakukan dengan menambahkan bogwood kedalam akuairum. Bogwood adalah semacam kayu yang dapat memliki kemampuan menjerap kesadahan. Sama fungsinya seperti daun ketapang, kayu pohon asam dan sejenisnya.


Peningkatan Ph

Menaikkan pH dapat dilakukan dengan memberikan aerasi yang intensif, melewatkan air melewati pecahan koral, pecahan kulit kerang atau potongan batu kapur. Atau dengan menambahkan dekorasi berbahan dasar kapur seperti tufa, atau pasir koral. Atau dengan melakukan penggantian air(Neil:2003).
Kelompok amphibia, misalnya katak, merupakan jenis hewan ovipar. Katak betina dan katak jantan tidak memiliki alat kelamin luar. Pembuahan katak juga terjadi di luar tubuh. Pada saat kawin, katak betina dan katak jantan akan melakukan ampleksus, yaitu katak jantan akan menempel pada punggung katak betina dan menekan perut katak betina. Kemuidan katak betina akan mengeluarkan ovum ke dalam air. Setiap ovum yang dikeluarkan katak betina diselaputi oleh selaput telur atau membran vitelin. Sebelumnya, ovum katak yang telah matang dan berjumlah sepasang ditampung oleh suatu corong. Perjalanan ovum dilanjutkan melalui saluran telur atau oviduk. Dekat opangkal oviduk pada katak betina dewasa, terdapat saluran yang menggembung yang disebut kantung telur atau uterus. Oviduk katak betina terpisah dengan ureter (saluran kemih). Oviduk berkelok-kelok dan bermuara di kloaka.Segera setelah katak betina mengeluarkan ovum, katak jantan juga akan menyusul mengeluarkan sperma. Soperma yang dihasilkan oleh testis yang berjumlah sepasang dan disalurkan ke dalam saluran sperma (vas deferens). Vas deferens katak jantan bersatu dengan ureter (saluran kemih). Dari vas deferens sperma bermuara di kloaka. Setelah terjadi fertilisasi eksternal, ovum akan diselimuti oleh cairan kental, sehingga kelompok telur tersebut berbentuk gumpalan telur.Gumpalan telur yang telah dibuahi kemudian berkembang menjadi berudu. Berudu awal yang keluar dari gumpalan telur bernafas dengan insang dan melekat pada tumbuhan air dengan alat isap. Makanannya berupa pitoplankton sehingga berudu tahap awal merupakan herbivor. Berudu awal berkembang lebih lanjut dari herbivor menjadi karnivor atau insektivor (pemakan serangga). Bersamaan dengan itu mulai terbentuk lubang hidung dan paru-paru, serta celah-celah insang mulai tertutup. Selanjutnya, celah insang digantikan dengan anggota gerak depan.Setelah tiga bulan sejak terjadi fertilisasi, mulailah terjadi metamorfosis. Anggota gerak depan menjadi sempurna. Anak katak mulai berani muncul ke permukaan air, sehingga paru-parunya mulai berfungsi. Pada saat itu, anak katak bernafas dengan dua organ, yaitu insang dan paru-paru. Kelak fungsi insang berkurang dan menghilang, sedangkan ekor makin memendek hingga akhirnya lenyap. Pada saat itulah metamorfosis katak selesai(George:1993)

Metamorfosis adalah suatu proses biologi di mana hewan secara fisik mengalami perkembangan biologis setelah dilahirkan atau menetas, melibatkan perubahan bentuk atau struktur melalui pertumbuhan sel dan differensiasi sel. Metamorphosis berasal dari bahasa Yunani yaitu Greek = meta (diantara, sekitar, setelah), morphe` ( bentuk), osis (bagian dari), jadi metamorphosis merupakan perubahan bentuk selama perkembangan post-embrionik. Hewan yang mengalami metamorfosis cukup banyak, di antaranya adalah katak, kupu-kupu dan serangga.Secara rinci dengan uaraian yang memudahkan kami susun proses metamorfosis ini (Iskandar:2002)

• Metamorfosis biasanya terjadi pada fase berbeda-beda
• Dimulai dari larva atau nimfa, kadang-kadang melewati fase pupa, dan berakhir sebagai spesies dewasa / imago .
• Ada dua macam metamorfosis utama pada serangga, hemimetabolisme (TNI) dan holometabolisme (TLPI).
• Fase spesies yang belum dewasa pada metamorfosis biasanya disebut larva.
• Pada metamorfosis kompleks / sempurna pada kebanyakan spesies serangga, setelah telur menetas fase pertamanya kita sebut larva dan jika tidak sempurna setelah telur disebut Nympa ( kehidupan yang habis menetas namun performa bentuknya seperti dewasa hanya berkuran kecil )
• Pada hemimetabolisme, perkembangan larva berlangsung pada fase pertumbuhan berulang dan ekdisis (pergantian kulit), fase ini disebut instar. Hemimetabolisme juga dikenal dengan metamorfosis tidak sempurna.
• Pada holometabolisme, larva sangat berbeda dengan dewasanya. Serangga yang melakukan holometabolisme melalui fase larva, kemudian memasuki fase tidak aktif yang disebut pupa, atau chrysalis, dan akhirnya menjadi dewasa.
• Holometabolisme juga dikenal dengan metamorfosis sempurna. Sementara di dalam pupa, serangga akan mengeluarkan cairan pencernaan, untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan sebagian sel saja. Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva.
• Proses kematian sel disebut histolisis, dan pertumbuhan sel lagi disebut histogenesis.
.
Metamorfosis Katak


Pada awalnya, katak betina dewasa akan bertelur

• kemudian telur tersebut akan menetas setelah 10 hari.
• Setelah menetas, telur katak tersebut menetas menjadi Berudu.
• Setelah berumur 2 hari, Berudu mempunyai insang luar yang berbulu untuk bernapas.
• Setelah berumur 3 minggu insang berudu akan tertutup oleh kulit.
• Menjelang umur 8 minggu, kaki belakang berudu akan terbentuk
• kemudian membesar ketika kaki depan mulai muncul.
• Umur 12 minggu, kaki depannya mulai berbentuk, ekornya menjadi pendek serta bernapas dengan paru-paru.
• Setelah pertumbuhan anggota badannya sempurna, katak tersebut akan berubah menjadi katak dewasa
PERUBAHAN MORFOLOGI
• Morfologi pada amphibi, metamorfosis umumnya digabungkan dengan perubahan persiapan yang mana dari organisme aquatik untuk menjadi organisme daratan.
• Pada urodela (salamander), perubahan ini meliputi berkurangnya ekor dan rusaknya insang bagian dalam dan berubahnya struktur kulit.
• Pada anura, perubahan metamorfosis berlangsung secara dramatis dan kebanyakan organ-organnya telah termodifikasi.
• Perubaan terjadi pada hilangnya gigi dan insang internal pada anak katak,
• juga hilangnya ekor pada fase terbentuknya katak dewasa
• juga terjadi proses pembentukan seperti berkembangnya anggota tubuh dan morfogenesis kelenjar dermoid.
• Perubahan lokomosi terjadi dari pergerakan ekor menjadi terbentuknya lengan depan dan lengan belakang.
• Gigi yang digunakan untuk mencabik tanaman hilang dan digantikan dengan perubahan bentuk baru dari mulut dan rahangnya, otot dari lidah juga berkembang,
• insang mengalami degenerasi, paru-paru membesar, otot dan tulang rawan berkembang untuk memompa udara masuk dan keluar pada paru-paru.
• Mata dan telinga berdiferensiasi. Telinga bangian tengah berkembang dan membran timfani terletak pada bagian telinga luar.

PERUBAHAN BIOKIMIA
• Pada berudu terjadi perubahan biokimia antara lain fotopigmen retina yang utama adalah porphyropsin.
• Selama metamorfosis, pigmen ini merubah karakterisik fotopigmen dari darat dan vertebrata perairan.
• Pengikatan hemoglobin (Hb) dengan O2 juga mengalami perubahan.
• Enzim yang terdapat pada hati juga mengalami perubahan, hal ini disebabkan adanya perubahan habitat. Kecebong bersifat ammonotelik yaitu mensekresikan amonia, sedangkan katak dewasa bersifat ureotelic yaitu mensekresikan urea.
• Selama metamorfosis, hati mensintesis enzim untuk siklus urea agar dapat membentuk atau menghasilkan urea dari CO2 dan amonia.

PERUBAHAN SPECIFIK
• Organ tubuh yang berbeda juga akan merespon beda pada stimulasi hormon.
• Stimulus yang sama menyebabkan beberapa jaringan degenerasi dan menyebabkan diferensiasi dan perkembangan yang berbeda.
• Respon hormon thyroid lebih spesifik pada bagian-bagian tubuh tertentu. Pada ekor, T3 menyebabkan kematian dari sel-sel epidermal.
• Meskipun terjadi kematian dari sel-sel epidermal pada ekor, kepala dan epidermis tubuh tetap melanjutkan fungsinya.


Hormon yang berperan dalam perkembangan katak
• Dikontrol oleh hormon thyroid.
• Perubahan metamorfosis dari perkembangan katak dengan mensekresikan hormon thyroxin (T4) dan triiodothronine (T3) dari thyroid selama metamorfosis.
• Peranan hormon T3 lebih penting, hal ini disebabkan perubahan metamorfosis pada thyroidectomized berudu memiliki konsentrasi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan hormon T4.
• Koordinasi dari perubahan perkembangan dan respon molekul hormon thyroid.
• Salah satu masalah utama dari metamorfosis adalah koordinasi saat perkembangan.
• Pada dasarnya, ekor tidak mengalami degenerasi sampai terbentuk dan berkembangnya organ-organ lokomosi.
• Seperti berkembangnya kaki dan tangan untuk pergerakan dan insang tidak akan mengalami perubahan fungsi sampai berkembang otot paru-paru.
• Hal ini menunjukkan bahwa koordinasi metamorfosis yang berbeda pada jaringan dan organ akan memberikan respon yang berbeda pada hormon.
• Untuk menjamin sistem kerja ini, 2 organ yang sensitif terhadap thyroksin yaitu thyroid dan kelenjar pituitary, akan meregulasi produksi hormon thyroid.
• Hormon thyroid berfungsi untuk membentuk hubungan timbal balik dengan kelenjar pituitary yang menyebabkan interior pituitary menginduksi thyroid untuk menghasilkan T3 dan T4 lebih banyak.
• Selain itu, hormon thyroid juga berfungsi untuk transkripsi dan mengaktivasi transkripsi pada beberapa gen. Seperti transkripsi gen untuk albumin, globin dewasa, keratin kulit dewasa diaktivasi oleh hormon thyroid.
• Respon T3 adalah aktivasi transkripsi gen reseptor hormon thyroid (TR). TR berikatan dengan sisi yang spesifik pada kromatin sebelum hormon thyroid dibentuk. Ketika T3 dan T4 masuk kedalam sel, dan berikatan dengan ikatan reseptor kromatin, hormon reseptor kompleks dirubah dari aktivator transkripsi.
• Belum diketahui mekanisme dari hormon thyroid dengan respon yang berbeda pada jaringan yang berbeda (proliferasi, diferensiasi, kematian sel). Pembentukan anggota tubuh tidak tergantung hormon thyroid, hal ini terjadi pada pembelahan holoblastic dimana gastrulasi diawali pada posisi subequatorial, pembentukan neural dibagian permukaan dan kuncup anggota tubuh juga terbentuk dibagian permukaan. Pembentukan anggota tubuh tidak tergantung pada hormon thyroid.























III
METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan
• Tiga botol Nescafe
• Penggaris
• Larva Katak
• Air dengan PH 6
• Air dengan PH 7
• Air dengan PH 8

3.2 Prosedur kerja
• Disiapkan tiga botol Nescafe yang masing-masing berisiar dengan PH 6,PH 8 dan PH 7 .
• Dimasukkan tiga ekor larva katak
• Diukur larva katak tersebut sebelum di masukkan ke dalam botol
• Di amati perkembangan aktivitas larva katak tersebut setiap hari















IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil penelitian



Gambar 4.1 Pengukuran Larva Katak
Sebelum Larva katak di masukkan kedalam medianya,Larva katak tersebut di ukur terlebih dahulu.



Gambar 4.2 aktiviatas Larva Katak hari ke 1
pada hari ke 1 larva katak yang ada di media yang berisi air dengan pH 6, pH 7, dan pH 8 belum terlihat perubahan apa apa.



Gambar 4.3 Aktivitas Larva Katak hari ke 2
Pada hari ke 2 terlihat Larva katak pada media yang berisi air dengan pH 8 lebih aktif dari pada media yang berisi air dengan pH 6 dan pH 7.



Gambar 4.4 Aktivitas Larva Katak hari ke 3
Pada hari ke 3 hampir sama dengan hari yang ke 2.



Gambar 4.5 Aktivitas Larva Katak pada hari ke 4
Pada hari ke 3 terlihat larva katak pada media yang berisi air dengan pH 8 bertambah aktif, media yang berisi air dengan pH 6 lebih banyak berdiam diri.


Gambar 4.6 Aktivitas Larva Katak hari ke 5
Pada hari ke 5 Larva Katak dalam media air yang ber pH 8 lebih cepat pertumbuhannya di bandingkan media yang berisi air dengan pH 6 dan ph 7.




Gambar 4.7 Aktivitas Larva Katak hari ke 6
pada hari terakhir penelitian,larva katak pada media yang berisi air dengan pH 6 pertumbuhannya tidak bagus, aktivitasnya banyak diam,sedikit sekali bergerak, di permukaan media terdapat sedikit gelembung air., kotorannya tidak terlalu banyak. Pada media yang berisi air dengan pH 7, pertumbuhannya seperti Larva katak biasanya (normal), bergerak secukupnya, di permukaan media terdapat banyak gelembung air, kotorannya lebih banyak di bandingkan pada pH 6.
Pada media yang berisi air dengan pH 8, pertumbuhannya sangat cepat, aktivitasnya begitu aktif, dipermukaan air terdapat sedikit gelembung air, tidak terlalu banyak terdapat kotoran.


4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

Dari penelitian yang telah di lakukan dapat diperoleh bahwa aktivitas Larva Katak pada pH 8 lebih aktif dibandingkan pH 6 dan pH 7.Hal ini dapat dilihat dari aktivitasnya yang setiap hari di teliti. Larva Katak yang di beri media air dengan pH 6 tidak terlalu aktif,lebih banyak berdiam diri, pertumbuhannya pun juga tidak bagus, dipermukaan pH terdapat sedikit gelembung air, hanya sedikit terdapat kotoran dari larva tersebut. Pada media yang berisi air dengan pH 7, pertumbuhannya seperti Larva katak biasanya (normal), bergerak secukupnya, di permukaan media terdapat banyak gelembung air, kotorannya lebih banyak di bandingkan pada pH 6.
Pada media yang berisi air dengan pH 8, pertumbuhannya sangat cepat, aktivitasnya begitu aktif, dipermukaan air terdapat sedikit gelembung air, tidak terlalu banyak terdapat kotoran.
Pada fase berudu amphibi hidup di perairan dan bernafas dengan insang. Pada fase ini berudu bergerak menggunakan ekor. Pada fase dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-paru. Pada fase dewasa ini amphibi bergerak dengan kaki. Perubahan cara bernafas yang seiring dengan peralihan kehidupan dari perairan ke daratan menyebabkan hilangnya insang dan rangka insang lama kelamaan menghilang. Pada anura, tidak ditemukan leher sebagai mekanisme adaptasi terhadap hidup di dalam liang dan bergerak dengan cara melompat. (Zug, 1993)
Amphibia memiliki kelopak mata dan kelenjar air mata yang berkembang baik. Pada mata terdapat membrana nictitans yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu, kekeringan dan kondisi lain yang menyebabkan kerusakan pada mata. Sistem syaraf mengalami modifikasi seiring dengan perubahan fase hidup. Otak depan menjadi lebih besar dan hemisphaerium cerebri terbagi sempurna. Pada cerebellum konvulasi hampir tidak berkembang. Pada fase dewasa mulai terbentuk kelenjar ludah yang menghasilkan bahan pelembab atau perekat. Walaupun demikian, tidak semua amphibi melalui siklus hidup dari kehidupan perairan ke daratan. Pada beberapa amphibi, misalnya anggota Plethodontidae, tetap tinggal dalam perairan dan tidak menjadi dewasa. Selama hidup tetap dalam fase berudu, bernafas dengan insang dan berkembang biak secara neotoni





























V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Dari penelitian pengaruh ph air tehadap perkembangan aktivitas larva katak dapat diambil simpulan sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh terhadap aktivitas Larva Katak pada media air yang berisi pH yang berbeda-beda.
2. Pada media yang berisi air dengan pH 8, pertumbuhannya sangat cepat, aktivitasnya begitu aktif dibandingkan media yang berisi air dengan pH 6 dan pH 7.

5.2 Saran
Karena keterbatasan waktu dan pengetahuan yang penulis miliki, maka penulis meyarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang “Pengaruh pH Air Terhadap Aktifitas Larva Katak” ini.
















DAFTAR RUJUKAN

Duellman, W. E. and L. Trueb. 1986. Biology of Amphibians. McGraw – Hill Book Company. New York
Eprilurahman, 2007. Frogs and Toads of Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. International Seminar Advances in Biological Science. Fakultas Bilogi UGM
Iskandar, D. T. and E. Colijn. 2000. Preliminary Checklist of Southeast Asian and New Guinean Herpetofauna: Amphibians. Treubia 31 (3): 1-133.
Pough, F. H, et. al. 1998. Herpetology. Prentice-Hall,Inc. New Jersey. Pp. 37-131
Zug, George R. 1993. Herpetology : an Introductory Biology of Ampibians and Reptiles. Academic Press. London, p : 357 – 358.

Djoko T. Iskandar. 1998. Amfibi Jawa dan Bali. Jakarta : Gramedia

Duellman, William E., Schlager, Neil. (2003). "Animal Life Encyclopedia:
Volume 6 Amphibians". Thomson-Gale ISBN

Iskandar, D.T. 2002. Biologi Amfibi Jawa dan Bali. Bogor: Puslitbang Biologi
LIPI










LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar