Senin, 14 Februari 2011

Pengaruh Pemberian Lumut Gambut (Sphagnum Sp) Terhadap Perkembangan Panjang Kecebong

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Berudu atau kecebong adalah tahap pra-dewasa (larva) dalam daur hidup amfibia. Berudu eksklusif hidup di air dan berespirasi menggunakan insang, seperti ikan. Tahap akuatik (hidup di perairan) inilah yang membuat amfibia memperoleh namanya (amphibia = "hidup [pada tempat] berbeda-beda"). Kebanyakan berudu herbivora, memakan alga dan bagian-bagian tumbuhan. Beberapa spesies merupakan omnivora (pemakan segala). Hal ini lah yang melatar belakangi Penulis membuat Karya Ilmiah ini. Yang bejudul “Pengaruh pemberian Lumut Gambut (sphagnum sp.). terhadap perkembangan panjang kecebong”
Lumut umumnya merupakan tumbuhan kecil, biasanya hanya beberapa mm sampai beberapa cm saja. keberadaan lumut seringkali luput dari perhatian karena selain ukuranya yang kecil, manfaat lumut bagi manusia secara langsung juga belum banyak diketahui . namun demikian, lumut mempunyai peranan cukup penting bagi lingkungan dan beberapa jenis-jenis hewan dan tumbuhan lainya. Lapisan lumut yang tebal dipermukaan batang dapat membantu menangkap dan menyimpan air serta menjaga kelembapan hutan. Lumut juga menyediakan tempat hidup bagi tumbuhan epifit seperti berbagai jenis anggrek danpaku-pakuan serta bagi hewan-hewan kecil seperti katak, kadal, siput, dan berbagai jenis serangga.
Tumbuhan lumut adalah tumbuhan darat sejati, walaupun masih banyak yang menyukai tempat yang lembab dan basah (pada kulit kayu, batuan, dan tembok). Lumut yang hidup di air jarang kita jumpai, kecuali lumut gambut (sphagnum sp.). walaupun demikian lumut masih sangat memerlukan air, tanpa air organ reproduksinya tidak dapat masak atau pecah (merekah).
Pada lumut, akar yang sebenarnya tidak ada, tumbuhan ini melekat dengan perantaraan Rhizoid (akar semu), oleh karena itu tumbuhan lumut merupakan bentuk peralihan antara tumbuhan ber-Talus (Talofita) dengan tumbuhan ber-Kormus (Kormofita). Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof.
Berdasarkan kelompok (kelas) lumut terbagi menjadi lumut hati, lumut daun, dan lumut tanduk.

1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan karya ilmiah ini yaitu sebagai berikut :
a. Apakah lumut mempengaruhi perkembangan panjang kecebong?
b. Apakah ada perbedaan panjang antara kecebing yang diberi lumut dengan yang tidak?



1.3. Hipotesis penelitian
Hipotesis merupkan dugaan sementara terhadap kebenaran sesuatu. Adapun hipotesis Karya Ilmiah ini yaitu :
“Kecebong mengalami perkembangan panjang lebih cepat karena diberi lumut”
1.4. Tujuan hasil penelitian
Adapun tujuan dari penulisan karya ilmiah ini yaitu:
a. Sebagai tugas akhir pratikum perkembangan hewan yang berupa sebuah karya ilmiah.
b. Untuk mengetahui apakah lumut mempengaruhi perkembangan kecebong?
c. Menambah wawasan pada pembaca jika penelitian ini berhasil sehingga nanti di peroleh informasi mengenai perkembangan kecebong.

1.5. Mamfaat hasil penelitian
Mamfaat dari penulisan karyya ilmiah ini yaitu:
a) Dapat memberikan tambahan informasi mengenai pengaruh perkembangan kecebong
b) Dapat memberikan gambaran kepada pembaca tentang fungsi lumut terhadap perkembangan kecebong


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pertumbuhan dan Perkembangan Hewan
Pertumbuhan dan perkembangan hewan dimulai sejak terbentuknya zigot. Satu sel zigot akan tumbuh dan berkembang hingga terbentuk embrio. Embrio akan berdiferensi sehingga terbentuk berbagai macam jaringan dan organ. Organ-organ akan menyatu dan bergabung menjadi janin. Janin akan dilahirkan sebagai bayi. Kemudian, bayi tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak, remaja, dan dewasa.
Pada siklus hidup hewan tertentu, terjadi perubahan bentuk tubuh dari embrio sampai dewasa. Perubahan bentuk ini disebut metamorfosis. Metamorfosis dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu metamorfosis sempurna dan tidak sempurna.
Metamorfosis sempurna dicirikan dengan adanya bentuk tubuh yang berbeda di setiap fase metamorfosis. Contoh hewan yang mengalami metamorfosis sempurna adalah kupu-kupu dan katak. Tahapan metamorfosis kupu-kupu mulai dari telur larva (ulat) pupa (kepompong) imago (dewasa).


Jika diperhatikan ternyata dalam setiap fase metamorfosis kupu-kupu, terlihat adanya perbedaan bentuk tubuh. Begitu juga dengan katak. Katak mengalami metamorfosis sempurna mulai dari telur berudu (kecebong) katak dewasa. Metamorfosis tidak sempurna ditandai dengan adanya bentuk tubuh yang sama, tetapi ukurannya berbeda pada salah satu fase metamorfosis. Contohnya adalah belalang dan kecoa. Belalang mengalami metamorfosis yang dimulai dari telur nimfa imago (dewasa). Nimfa memiliki bentuk tubuh yang sama dengan serangga dewasa, tetapi memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil. (Anonim D. 2010. Pertumbuhan dan Perkembangan Makhluk Hidup)
2.2. Faktor-Faktor Pertumbuhan dan Perkembangan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan hewan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi gen dan hormone. Faktor eksternal meliputi air, makanan, dan cahaya.
2.2.1. Gen
Gen merupakan faktor keturunan yang diwariskan dari orang tua (induk) kepada keturunannya. Gen akan mengendaalikan pola pertumbuhan dan perkembangan hewan.
2.2.2 Hormon
Hormon merupakan senyawa organik yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan hewan adalah hormon somatotrof (hormon pertumbuhan).
Bila hewan kekurangan hormone pertumbuhan, maka pertumbuhan akan terhambat sehingga badannya kerdil. Bila kelebihan hormon pertumbuhan, maka akan mengalami pertumbuhan raksasa.
2.2.3. Makanan
Makanan sangat diperlukan oleh hewan. Makanan digunakan sebagai zat pembangun tubuh dan sumber energi.
2.2.4. Air
Air merupakan pelarut dan media untuk terjadinya reaksi metabolisme tubuh. Reaksi metabolisme ini akan menghasilkan energi, membantu pembentukan sel-sel yang baru, dan memperbaiki sel-sel yang rusak.



2.2.5. Cahaya Matahari
Cahaya matahari sangat diperlukan dalam pembentukan vitamin D. Vitamin itu diperlukan dalam pembentukan tulang. (Kimball. W, John. 1998).
2.3. Berudu atau Kecebong
Berudu atau kecebong adalah tahap pra-dewasa (larva) dalam daur hidup amfibia. Berudu eksklusif hidup di air dan berespirasi menggunakan insang, seperti ikan. Tahap akuatik (hidup di perairan) inilah yang membuat amfibia memperoleh namanya (amphibia = "hidup [pada tempat] berbeda-beda"). Kebanyakan berudu herbivora, memakan alga dan bagian-bagian tumbuhan. Beberapa spesies merupakan omnivora (pemakan segala). (Anonim C. 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Berudu)

Gambar 2.2 : Berudu / kecebong




2.4.Lumut
2.4.1. Pengertian
Lumut merupakan tumbuhan darat sejati, walaupun masih menyukai tempat yang lembab dan basah. Lumut yang hidup di air jarang kita jumpai, kecuali lumut gambut (sphagnum sp).
Lumut umumnya merupakan tumbuhan kecil, biasanya hanya beberapa mm sampai beberapa cm saja. keberadaan lumut seringkali luput dari perhatian karena selain ukuranya yang kecil, manfaat lumut bagi manusia secara langsung juga belum banyak diketahui . namun demikian, lumut mempunyai peranan cukup penting bagi lingkungan dan beberapa jenis-jenis hewan dan tumbuhan lainya. Lapisan lumut yang tebal dipermukaan batang dapat membantu menangkap dan menyimpan air serta menjaga kelembapan hutan. Lumut juga menyediakan tempat hidup bagi tumbuhan epifit seperti berbagai jenis anggrek dan paku-pakuan serta bagi hewan-hewan kecil seperti katak, kadal, siput, dan berbagai jenis serangga.

Pada lumut, akar yang sebenarnya tidak ada, tumbuhan ini melekat dengan perantaraan Rhizoid (akar semu), oleh karena itu tumbuhan lumut merupakan bentuk peralihan antara tumbuhan ber-Talus (Talofita) dengan tumbuhan ber-Kormus (Kormofita).Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof.
Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifil. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifil maka hutan demikian disebut hutan lumut.
Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem). (Anonim A. 2010. Makalah Lumut)
Pada tumbuhan lumut terdapat Gametangia (alat-alat kelamin) yaitu:
a. Alat kelamin jantan disebut Anteridium yang
menghasilkan Spermtozoid
b. alat kelamin betina disebut Arkegonium yang
menghasilkan Ovum
Jika kedua gametangia terdapat dalam satu individu disebut berumah satu (Monoesius). Jika terpisah pada dua individu disebut berumah dua (Dioesius).
Gerakan spermatozoid ke arah ovum berupakan Gerak Kemotaksis, karena adanya rangsangan zat kimia berupa lendir yang dihasilkan oleh sel telur.
Sporogonium adalah badan penghasil spora, dengan bagian bagian :
- Vaginula (kaki)
- Seta (tangkai)
- Apofisis (ujung seta yang melebar)
- Kotak Spora : Kaliptra (tudung) dan Kolumela (jaringan dalam kotak
spora yang tidak ikut membentuk spora). Spora lumut bersifat haploid. (Anonim B. 2010. Lumut)
2.4.2. Karakteristik dan Ciri-ciri :
Fotosintesis, multiseluler dan eukariotik
Tak memiliki akar, batang dan daun sejati (talus)
Tak memiliki pembuluh angkut (xilem dan floem)
Mengalami pergiliran keturunan (dari gametofit – sporofit)
Reproduksi .

Seksual dan aseksual (spora) Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem).
Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifil. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifil maka hutan demikian disebut hutan lumut.

Tumbuhan lumut berwarna hijau karena mempunyai sel-sel dengan plastida yang menghasilkan klorofil a dan b. lumut bersifat autotrof. Lumut merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan lumut berkormus dan bertalus. Lumut dapat beradaptasi untuk tumbuh di tanah, belum mempunyai jaringan pengangkut, sudah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa.

Batang dan daun tegak memiliki susunan berbeda-beda. Batang apabila dilihat secara melintang akan tampak susunan sebagai berikut selapis sel kulit, lapisan kulit dalam (korteks), silinder pusat yang terdiri sel-sel parenkimatik yang memanjang untuk mengangkut air dan garam-garam mineral; belum terdapat floem dan xilem. Sel-sel daunnya kecil, sempit, panjang, dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala. Lumut hanya dapat tumbuh memanjang tetapi tidak membesar, karena tidak ada sel berdinding sekunder yang berfungsi sebagai jaringan penyokong. Rizoid seperti benang sebagai akar untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap garam-garam mineral.

Struktur sporofit (sporogonium) tubuh lumut terdiri dari: vaginula, seta, apofisis, kaliptra, kolumela. Sporofit tumbuh pada gametofit menyerupai daun. Gametofit berbentuk seperti daun dan di bagian bawahnya terdapat rizoid yang berfungsi seperti akar. Jika sporofit tidak memproduksi spora, gametofit akan membentuk anteridium dan arkegonium untuk melakukan reproduksi seksual.

2.4.3. Reproduksi Lumut
Reproduksi lumut bergantian antara fase seksual dan aseksual melalui pergiliran keturunan atau metagenesis. Reproduksi aseksual dengan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit. Reproduksi seksualnya dengan membentuk gamet-gamet dalam gametofit. Ada dua macam gametangium yaitu arkegonium (gametangium betina) bentuknya seperti botol dengan bagian lebar yang disebut perut, yang sempit disebut leher dan anteridium (gametangium jantan) berbentuk bulat seperti gada. Jika anteridium dan arkegonium dalam satu individu tumbuhan lumut disebut berumah satu (monoesis). Jika dalam satu individu hanya terdapat anteridium atau arkegonium saja tumbuhan lumut disebut berumah dua (diesis).

Lumut yang sudah teridentifikasi mempunyai jumlah sekitar 16 ribu spesies dan telah dikelompokkan menjadi 3 kelas yaitu: lumut hati, lumut tanduk dan lumut daun.

Pada tumbuhan lumut terdapat Gametangia (alat-alat kelamin) yaitu:
a.Alat kelamin jantan disebut Anteridium yang menghasilkan Spermtozoid
b.Alat kelamin betina disebut Arkegonium yang menghasilkan Ovum

Jika kedua gametangia terdapat dalam satu individu disebut berumah satu (Monoesius). Jika terpisah pada dua individu disebut berumah dua (Dioesius).

Gerakan spermatozoid ke arah ovum berupakan Gerak Kemotaksis, karena adanya rangsangan zat kimia berupa lendir yang dihasilkn oleh sel telur.
Sporogonium adalah badan penghasil spora, dengan bagian bagian :

-Vaginula (kaki)
- Seta (tangkai)
-Apofisis (ujung seta yang melebar)
- Kotak Spora : Kaliptra (tudung) dan Kolumela (jaringan dalam kotak

Spora yang tidak ikut membentuk spora). Spora lumut bersifat haploid.Perkembang biakan secara seksual berlangsung dengan cara penyatuan antara sel kelamin jantan dengan sel kelamin betina.

Perkembang biakan secara aseksual dapat terjadi dengan banyak cara, antara lain :
1. Membentuk tunas pada pangkal batang dan selanjutnya tunas terlepas dan berkembang menjadi individu baru.
2. Membentuk stolon
3. Batang lumut yang bercabang-cabang mati, lalu cabangnya tumbuh dan berkembang menjadi individu baru .
4. Protonema primer membentuk individu baru.
5. Protonema putus-putus menjadi banyak protonema, dan
6. Membentuk kuncup
(Anonim A. 2010. Makalah Lumut)





BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Alat dan Bahan
a. Botol nescafe 2 buah
b. Air kolam 200 ml
c. Lumut
d. Kecebong yang belum berkaki
e. Mistar
f. Kamera

3.2. Prosedur Kerja
Adapun langkah-langkah pada penelitian ini yaitu :
a. Menyiapkan botol nesscafe,
b. Mengisi botol A dan B dengan air kolam sebanyak 100ml
c. Memasukkan Lumut kedalam kedalam botol A, sedangkan botol B sebagai kontrol
d. Mengukur panjang kecebong sebelum dimasukkan kedalam media
e. Memasukkan 3 ekor kecebong yang berukuran sama kedalam botol A dan B juga 3 ekor yang sama dengan ukuran kecebong pada botol A
f. Mengamati perkembangan panjang kecebong setiap hari selama 7 hari
g. Mengukur kembali mulai dari hari kedua dan seterusnya
h. Mencatat hasil pengamatan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Adapun hasil yang dapat diperoleh dari pengamatan ini yaitu sebagai berikut :

No
Hari / Tanggal Panjang Kecebong Botol A Panjang Kecebong Botol B
Keterangan
1. Senin / 20 Desember 2010 0,8 cm 0,8 cm
2. Selasa/21 Desember 2010 1,0 cm 0,9 cm
3. Rabu/ 22 Desember 2010 1,3 cm 1,1 cm
4. Kamis/ 23 Desember 2010 1,5 cm 1,3 cm
5. Jumat/ 24 Desember 2010 1,7 cm 1,4 cm
6. Sabtu/25 Desember 2010 1,8 cm 1,6 cm
7. Minggu/26 Desember 2010 1,9 cm 1,7 cm

Tabel 4.1.1. Hasil pengamatan






4.2. Pembahasan Hasil Penelitian
Pertumbuhan dan perkembangan hewan dimulai sejak terbentuknya zigot. Satu sel zigot akan tumbuh dan berkembang hingga terbentuk embrio. Embrio akan berdiferensi sehingga terbentuk berbagai macam jaringan dan organ. Organ-organ akan menyatu dan bergabung menjadi janin. Janin akan dilahirkan sebagai bayi. Kemudian, bayi tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak, remaja, dan dewasa.
Pada siklus hidup hewan tertentu, terjadi perubahan bentuk tubuh dari embrio sampai dewasa. Perubahan bentuk ini disebut metamorfosis. Metamorfosis dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu metamorfosis sempurna dan tidak sempurna.
Metamorfosis sempurna dicirikan dengan adanya bentuk tubuh yang berbeda di setiap fase metamorfosis. Contoh hewan yang mengalami metamorfosis sempurna adalah kupu-kupu dan katak. Tahapan metamorfosis kupu-kupu mulai dari telur larva (ulat) pupa (kepompong) imago (dewasa).
Jika diperhatikan ternyata dalam setiap fase metamorfosis kupu-kupu, terlihat adanya perbedaan bentuk tubuh. Begitu juga dengan katak. Katak mengalami metamorfosis sempurna mulai dari telur berudu (kecebong) katak dewasa. http://bhebeth89.files.wordpress.com/2008/06/19.pdf
Lumut umumnya merupakan tumbuhan kecil, biasanya hanya beberapa mm sampai beberapa cm saja. keberadaan lumut seringkali luput dari perhatian karena selain ukuranya yang kecil, manfaat lumut bagi manusia secara langsung juga belum banyak diketahui . namun demikian, lumut mempunyai peranan cukup penting bagi lingkungan dan beberapa jenis-jenis hewan dan tumbuhan lainnya. http://ugeex.blogspot.com/2009/03/makalah-lumut.html.
Pada pengamatan ini waktu nya dimulai hari Senin / 20 Desember 2010 Mulai mengukur panjang awal kecebong, dengan panjang yang sama antara 3 kecebong pada botol A (yang diberi lumut) dan B (Botol Kontrol), setelah diukur diperoleh panjang kecebong 0,8 cm. Pada hari kedua mulai terlihat perbedaan panjang yaitu pada botol A 1,0 cm sedangkan pada botol B 0,9 cm. Pada hari ketiga pada botol A panjang kecebongnya 1,3 cm sedangkan pada botol B diperoleh panjangnya 1,1 cm. Pada hari keempat kecebong pada botol A panjangnya 1,5 cm sedangkan pada botol B panjangnya 1,3 cm. pada hari ke lima panjang kecebong pada botol A 1,7 cm sedangkan pada botol B panjang kecebongnya yaitu 1,4 cm. Pada hari keenam panjang kecebong pada botol A yaitu: 1,8 cm sedangkan pada botol B 1,6 cm, selanjutnya pada hari ketujuh panjang kecebong pada botol A yaitu 1,9 sedangkan pada botol B yaitu 1,7 cm.
Dari data diatas terlihat perbedaan panjang kecebong pada kecebong yang diberi lumut dengan yang tidak, berdasarkan data yang diperoleh panjang kecebong yang diberi lumut lebih cepat perkembangan panjangnya dibandingkan dengan yang tidak diberikan lumut.


BAB V
PENUTUP
5.1. Simpulan
Adapun simpulan yang dapat di ambil dari pengamatan ini yaitu sebagai berikut :
1. Pertumbuhan dan perkembangan hewan dimulai sejak terbentuknya zigot.
2. Lumut merupakan tumbuhan darat sejati, walaupun masih menyukai tempat yang lembab dan basah
3. Berudu atau kecebong adalah tahap pra-dewasa (larva) dalam daur hidup amfibia
4. Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof.
5. Kebanyakan berudu herbivora, memakan alga dan bagian-bagian tumbuhan. Beberapa spesies merupakan omnivora (pemakan segala).
6. Lumut merupakan tumbuhan darat sejati, walaupun masih menyukai tempat yang lembab dan basah. Lumut yang hidup di air jarang kita jumpai, kecuali lumut gambut (sphagnum sp.).
7. Fotosintesis, multiseluler dan eukariotik , Tak memiliki akar, batang dan daun sejati (talus), Tak memiliki pembuluh angkut (xilem dan floem)
Mengalami pergiliran keturunan (dari gametofit – sporofit)
Reproduksi .
8. Kecebong akan lebih cepat perkembangannya karena lumut mampu berfotosintesis sehingga kecebong memiliki oksigen yang cukup.

5.2. Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan pada karya ilmiah ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk penulisan karya ilmiah tentang kecebong dan lumut berikutnya penulis mengharapkan penulisannya lebih baik lagi.
2. Penulis mengharapkan kepada insan kreatif agar dapat memamfaat kan kecebong dan lumut sebaik-baiknya yang berguna bagi masyarakat.













DAFTAR RUJUKAN

Anonim A. 2010. Makalah Lumut. Diakses : 24 februari 2010. http :// kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi /0013%20Bio%201-3b.html.
Anonim B. 2010. Lumut. Diakses 24 desember 2010. http://ugeex.blogspot.com/2009/03/makalah-lumut.html
Anonim C. 2010. Berudu. diakses 28 desember 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Berudu

Anonim D. 2010. Pertumbuhan dan Perkembangan Makhluk Hidup. Diakses 28 februari 2010. http://bhebeth89.files.wordpress.com/2008/06/19.pdf
Kimball. W, John. 1998. Biologi. Edisi kelima. Bogor: Ellangga

LAMPIRAN

















Gambar 7 : Hari keenam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar