Senin, 14 Februari 2011

PENGARUH PH AIR TERHADAP LAMA PENETASAN TELUR KODOK BANGKONG (BUFO MELANOSTICTUS)

PENGARUH PH AIR TERHADAP LAMA PENETASAN
TELUR KODOK BANGKONG (BUFO MELANOSTICTUS)

TONI SETIAWAN
A1C409047


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2010

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji syukur penulis curahkan kehadiraat Allah SWT yang mana sampai saat ini tak henti-hentinya memberikan limpahan nikmat kesehatan sehingga penulisan karya ilmiah dengan judul Pengaruh Ph Air Terhadap Lama Penetasan Telur Kodok (Bufo melanostictus) dapat terselesaikan dengan baik. Adapun penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai syarat untuk mengikuti ujian praktikum perkembangan hewan program studi pendidikan biologi universitas jambi tahun 2010
Pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian karya ilmiah ini terutama kepada Rita Yuliza selaku pembimbing sekaligus asisten praktikum perkembangan hewan penulis ucapkan terimakasih atas bimbingan , kritik dan sarannya sehingga karya ilmiah ini dapat menjadi karya ilmiah yang baik, dan kepada rekan-rekan sekelas yang telah mau bekerja sama dan memberikan bantuan. Semoga apa yang telah diberikan akan mendapat nilai pahala dari Allah SWT.
Dalam penulisan karya ilmiah ini mungkin terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya ilmiah ini dapat memberi manfaat



Jambi, Desember 2010

Penulis
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Kodok (Bufo melanostictus) mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Beberapa jenis kodok pegunungan menyimpan telurnya di antara lumut-lumut yang basah di pepohonan. Sementara jenis kodok hutan yang lain menitipkan telurnya di punggung kodok jantan yang lembab, yang akan selalu menjaga dan membawanya hingga menetas bahkan hingga menjadi kodok kecil.Sekali bertelur kodok bisa menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun.
Di alam bebas, telur kodok biasa di temui pada berbagai jenis perairan seperti air kolam, danau, dan payau. Berbagai jenis air di alam bebas memiliki tingkat PH atau keasaman air yang berbeda-beda seperti air payau yang memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi. Berbagai tingkat PH air di alam bebas tersebut di asumsikan akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan telur kodok, oleh karena itu pada penelitian yang akan dilakukan penulis akan mengujikan lama penetasan telur kodok dari jenis Bufo melanostictus (kodok bangkong) pada berbagai jenis air dengan tingkat PH tertentu.

1.2 Rumusan Masalah
Apakah PH air berpengaruh terhadap lama penetasan telur kodok (Bufo melanostictus) ?

1.3 Hipotesis
PH air akan memberikan pengaruh terhadap lama penetasan telur kodok (Bufo melanostictus)

1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut
1. Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh PH air terhadap lama penetasan telur kodok (Bufo melanostictus)
2. Untuk membuktikan hipotesis bahwa PH air akan meberikan pepngaruh terhadap lama penetasan telur kodok (Bufo melanostictus)
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah untuk menginformasikan kepada pembaca dan masyarakat tentang pengaruh PH air terhadap telur kodok bangkong (Bufo melanostictus)

BAB II KAJIAN PUSTAKA


A. Kodok Bangkong (Bufo melanostictus)
Kodok bangkong atau bangkong kolong adalah hewan Amphibia dari ordo Anura, bangkong ini juga dikenal dengan berbagai nama lain seperti kodok buduk (Jakarta), kodok berut, kodok brama (Jawa). Kodok ini menyebar luas mulai dari India, Republik Rakyat Cina selatan, Indochina sampai ke Indonesia bagian barat. Di Indonesia, dengan menumpang pergerakan manusia, hewan amfibi ini dengan cepat menyebar (menginvasi) dari pulau ke pulau. Kini bangkong kolong juga telah ditemui di Bali, Lombok, Sulawesi dan Papua barat (Hariyanto, 1994)

Kingdom Animalia
Phylum Chordata
Sub Phylum Vertebrata
Class Amphibia
Ordo Anura
Familia Bufonidae
Genus Bufo
Spesies Bufo melanotictus


Ordo Caudata merupakan satu-satunya Ordo yang tidak terdapat di Indonesia. Ordo Gymnophiona (diantaranya genus Cecilia) jarang di temukan di Indonesia. Cecilia pernah ditemukan di Banten yang berbentuk seperti cacing dengan kepala dan mata yang tampak jelas dan mudah di kelirukan dengan cacing. Ordo Anura merupakan Ordo yang paling banyak di temukan di Indonesia, yang termasuk dalam Ordo ini adalah katak dan kodok. Di Indonesia sampai saat ini telah di temukan sekitar 10 (sepuluh) familia, 6 (enam) familia di antaranya terdapat di Jawa. Familia-familia dari Ordo Anura yang ada di Indonesia adalah: Bombinataridae (Discoglossidae), Megapridae (Pelobatidae), Bufonidae, Lymnodynastidae, Myobatrachidae, Mycrohylidae, Pelodrydae, Ranidae, Rhacophoridae dan Pipidae (Iskandar, 1998 ).

B. Morfologi Kodok Bangkong
Kodok berukuran sedang, yang dewasa berperut gendut, berbintil-bintil kasar. Bangkong jantan panjangnya (dari moncong ke anus) 55-80 mm, betina 65-85 mm. Di atas kepala terdapat gigir keras menonjol yang bersambungan, mulai dari atas moncong; melewati atas, depan dan belakang mata; hingga di atas timpanum (gendang telinga). Gigir ini biasanya berwarna kehitaman. Sepasang kelenjar parotoid (kelenjar racun) yang besar panjang terdapat di atas tengkuk. Bagian punggung bervariasi warnanya antara coklat abu-abu gelap, kekuningan, kemerahan, sampai kehitaman. Ada pula yang dengan warna dasar kuning kecoklatan atau hitam keabu-abuan. Terdapat bintil-bintil kasar di punggung dengan ujung kehitaman. Sisi bawah tubuh putih keabu-abuan, berbintil-bintil agak kasar. Telapak tangan dan kaki dengan warna hitam atau kehitaman; tanpa selaput renang, atau kaki dengan selaput renang yang sangat pendek. Hewan jantan umumnya dengan dagu kusam kemerahan.









Kodok mudah di kenali dari tubuhnya yang tampak seperti berjongkol dengan 4 (empat) kaki untuk melompat, leher yang tidak jelas dan tanpa ekor, kaki belakang berfungsi untuk melompat, lebih panjang dari pada kaki depan yang pendek dan ramping. Kodok mempunyai kulit tubuh yang kasar, tertutup oleh tonjolan-tonjolan berduri di seluruh permukaan kulit, pada sisi tubuh terdapat lipatan kulit berkelenjar mulai dari belakang sampai di atas pangkal paha yang disebut lipatan dorsalateral. Ada juga lipatan yang serupa yang disebut lipatan supra timpatik yang mulai dari belakang mata memanjang di atas gendang telinga dan berakhir di dekat pangkal lengan. Pada kebanyakan jenis kodok betina mempunyai ukuran tubuh lebih besar dari pada kodok jantan (Iskandar, 1998).


C. Habitat Kodok Bangkong
Kodok sebagai umumnya amfibi, hidup selalu berasosiasi dengan dua habitat yaitu habitat air dan daratan. Daratan lebih banyak mereka butuhkan sewaktu memasuki stadia kecil (kodok muda) hingga dewasa, sedangkan pada waktu berudu lebih banyak memerlukan air sebagai habitatnya. Namun demikian, amfibia menghuni habitat yang sangat bervariasi dari tergenang di bawah air sampai yang hidup di pucuk pohon.
Distribusi kodok meliputi daerah tropis dan sub tropis, akan tetapi pertumbuhanya akan optimum apabila hidup pada daerah tropis. Walaupun kodok termasuk binatang berdarah dingin yang suhu tubuhnya mampu mengikuti suhu lingkungan, tetapi untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal, suhu yang dikehendaki berkisar antara 26 °C – 33 °C. Di Indonesia penyebarannya sangat luas terdapat hampir di seluruh wilayah yang mencakup 10 (sepuluh) Ordo dan terdiri lebih dari 450 jenis, 6 (enam) di antaranya tercatat di Jawa, salah satunya dari familia Bufonidae (Iskandar, 2002).

D. Perilaku Hidup Bangkong Kolong
Bangkong kolong paling sering ditemukan di sekitar rumah. Melompat pendek-pendek, kodok ini keluar dari persembunyiannya di bawah tumpukan batu, kayu, atau di sudut-sudut dapur pada waktu magrib; dan kembali ke tempat semula di waktu subuh. Terkadang, tempat persembunyiannya itu dihuni bersama oleh sekelompok kodok besar dan kecil; sampai 6-7 ekor. Bangkong kolong kawin di kolam, danau dan payau atau bahkan genangan air yang menggenang cukup lama.

Bangkong ini kawin di kolam-kolam, selokan berair menggenang, atau belumbang, sering pada malam bulan purnama. Kodok jantan mengeluarkan suara yang ramai sebelum dan sehabis hujan untuk memanggil betinanya, kerapkali sampai pagi
Pada saat-saat seperti itu, dapat ditemukan beberapa pasang sampai puluhan pasang bangkong yang kawin bersamaan di satu kolam. Sering pula terjadi persaingan fisik yang berat di antara bangkong jantan untuk memperebutkan betina, terutama jika betinanya jauh lebih sedikit. Oleh sebab itu, si jantan akan memeluk erat-erat punggung betinanya selama prosesi perkawinannya. Kadang-kadang dijumpai pula beberapa bangkong yang mati karena luka-luka akibat kompetisi itu; luka di moncong hewan jantan, atau luka di ketiak hewan betina. Nampaknya kodok ini memiliki asosiasi yang erat dengan lingkungan hidup manusia. Dari waktu ke waktu, bangkong kolong terus memperluas daerah sebarannya mengikuti aktivitas manusia. Iskandar (1998) mencatat bahwa kodok ini tak pernah terdapat di dalam hutan hujan tropis.
Pada saat bereproduksi katak dewasa akan mencari lingkungan yang berair. Disana mereka meletakkan telurnya untuk dibuahi secara eksternal. Telur tersebut berkembang menjadi larva dan mencari nutrisi yang dibutuhkan dari lingkungannya, kemudian berkembang menjadi dewasa dengan bentuk tubuh yang memungkinkannya hidup di darat, sebuah proses yang dikenal dengan metamorfosis. Tidak seperti telur reptil dan burung, telur katak tidak memiliki cangkang dan selaput embrio. Sebaliknya telur katak hanya dilindungi oleh kapsul mukoid yang sangat permeabel sehingga telur katak harus berkembang di lingkungan yang sangat lembab atau berair.




BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Larutan dengan PH yang berbeda
- Larutan basa (NaOH) dengan PH 6
- Air dengan PH netral (7)
- Larutan asam (HCL) dengan PH 8
b. Telur kodok
c. Baskom plastic
d. Alat tulis

3.2 Prosedur Kerja
a. Disiapkan larutan NaOH, larutan HCL, dan air yang telah ditentukan PH-nya
b. Dimasukan berbagai larutan tersebut kedalam baskom plastik yang telah disediakan
c. Ditandai ketiga baskom tersebut sesuai dengan larutan yang ada didalamnya
d. Dimasukan telur kodok yang dari tempat asal dan umur yang sama kedalam 3 jenis larutan tersebut
e. Dihitung dan dicatat waktu yang diperlukan telur hingga menetas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4. 1 Hasil Penelitian

Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut

Larutan/PH Lama Penetasan
NaOH (PH 6) 7 hari
H2O (PH 7) 5 hari
HCL (PH 8) 5 hari
Tabel 4.1 Hasil Henelitian


4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Dari hasil yang diperoleh, telur yang diletakan dalam air dan larutan HCL menetas pada waktu yang bersamaan yaitu menetas pada hari ke- 5 pengamatan. Menurut Susanto 1998, telur kodok tidak seperti telur reptile dan aves. Telur kodok tidak memiliki cangkang dan selaput embrio, sebaliknya telur kodok hanya dilindungi oleh kapsul mukoid (lendir) yang sangat permeable sehingga telur kodok dapat berkembang dengan baik di berbagai jenis air. Hal ini yang mempengaruhi telur kodok pada larutan HCL dengan konsentrasi PH 8 dapat berkembang dengan baik seperti telur yang diletakkan pada larutan H20. Berbeda dengan larutan HCL dan H2O, telur kodok pada larutan NaOH dengan konsenterasi PH 6 menetas lebih lama, yaitu 7 hari.
Menurut Iskandar 2002, Kodok berperan sangat penting sebagai indikator pencemaran lingkungan. Tingkat pencemaran lingkungan pada suatu daerah dapat dilihat dari jumlah populasi kodok yang dapat ditemukan di daerah tersebut. Latar belakang penggunaan kodok sebagai indikator lingkungan karena kodok merupakan salah satu mahluk purba yang telah ada sejah ribuan tahun lalu. Jadi kodok tetap exist dengan perubahan iklim bumi. Tentunya hanya pengaruh manusialah yang mungkin menyebabkan terancamnya populasi kodok. Salah satunya adalah pembuangan limbah berbahaya oleh manusia ke alam. Limbah berbahaya inilah yang bisa mengancam keberadaan kodok pada daerah yang tercemar. Selain itu, karena pentingnya kedudukan kodok dalam rantai makanan, maka pengurangan jumlah kodok akan menyebabkan terganggunya dinamika pertumbuhan predator kodok. Bahkan terganggunya populasi kodok dapat berakibat langsung dengan punahnya predator kodok. Akan tetapi yang lebih mengancam kehidupan kodok sebenarnya adalah kegiatan manusia yang banyak merusak habitat alami kodok, seperti hutan-hutan, sungai dan rawa-rawa. Apalagi kini penggunaan pestisida yang meluas di sawah-sawah juga merusak telur-telur dan berudu kodok, serta mengakibatkan cacat pada generasi kodok yang berikutnya.

BAB V PENUTUP

5. 1 Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. PH air berpengaruh terhadap lama penetasan telur kodok bangkong (Bufo melanostictus)
2. Hipotesis bahwa PH air berpengaruh terhadap lama penetasan telur kodok bangkong (Bufo melanostictus) adalah benar dan terbukti.
5.2 Saran
Kodok bangkong merupakan salah satu hewan yang berpengaruh terhadap pengendalian jumlah populasi serangga, berkurangnya populasi kodok bangkong akan berpengaruh terhadap pertumbuhan populasi serangga yang selanjutnya akan menggangu keseimbangan ekosistem, oleh karena itu untuk tetap menjaga kelestarian kodok bangkong hendaknya kita sebagai makhluk yang bertanggung jawab dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan terutama lingkungan air.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Bufo melanostictus. Ensiklopedia bebas. Wikipedia.org. Diakses
27 Desember 2010
Djoko T. Iskandar. 1998. Amfibi Jawa dan Bali. Jakarta : Gramedia
Duellman, William E., Schlager, Neil. (2003). "Animal Life Encyclopedia:
Volume 6 Amphibians". Thomson-Gale ISBN
Hariyanto, 1994. Budidaya Kodok Ijo Unggul. Surabaya: Karya Anda.
Iskandar, D.T. 2002. Biologi Amfibi Jawa dan Bali. Bogor: Puslitbang Biologi
LIPI
Susanto, Heru. 1998. Budidaya Kodok Unggul. Jakarta: Penebar Swadaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar