Senin, 09 Mei 2011

PENGARUH PH TERHADAP PERKEMBANGAN EMBRIO TELUR IKAN LELE (Clarias sp)

PENGARUH PH TERHADAP PERKEMBANGAN EMBRIO TELUR IKAN LELE (Clarias sp)

KARYA ILMIAH


OLEH
DOKO WIBOWO
A1C409031









PROGRAM STUDI BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2010/2011
DAFTAR ISI
Daftar isi ……………………………………………………………………... i
Daftar gambar ……………………………………………………………… iii
Daftar tabel ………………………………………………………………… iv
Daftar lampiran ………………………………………………………………
I . Pendahuluan …………….………………………………………………… 1
1.1 Latar belakang ……………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan masalah ……………………………………………………. 5
1.3 Batasan masalah ……………………………………………………… 5
1.4 Hipotesis Penelitian …………………………………………………… 5
1.5 Tujuan ………………………………………………………………… 6
1.6 Manfaat ………………………………………………………………. 6
II. Kajian Pustaka …………………………………………………………….. 7
2.1 Tinjauan umum tentang pengaruh …………………………………. 7
2.2 Tinjauan umum tentang PH ………………………………………… 7
2.3 Tinjauan umum tentang perkembangan ……………………………… 10
2.4 Tinjauan tentang embrio …………………………………………….. 10
2.5 Ikan lele …………………………………………………………….. 18

III. Metode Penelitian ………………………………………………………… 20
3.1 Alat Bahan …………………………………………………………… 20
3.2 Prosedur ……………………………………………………………… 20
IV. Hasil dan Pembahasan …………………………………………………… 23
4.1 Hasil Penelitian ……………………………………………………… 23
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian ………………………………………… 25
V. Penutup ……………………………………………………………………. 26
5.1 Kesimpulan …………………………………………………………… 26
5.2 Saran …………………………………………………………………. 26
Daftar Rujukan ……………………………………………………………….. 27
Lampiran ……………………………………………………………………… 28
























BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Bangsa luar negeri menyebut ikan lele dengan sebutan catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Ada berbagai macam jenis ikan lele yang tersebar di dunia, untuk di Indonesia sendiri diantaranya adalah :
1. Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).
2. Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang).
3. Clarias melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat).
4. Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat), kaleh (Kalimantan Selatan).
5. Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang (Kalimantan Timur).
6. Clarias gariepinus, yang dikenal sebagai lele Dumbo (Lele Domba), King cat fish, berasal dari Afrika.
Habitat ikan lele adalah disungai yang airnya bergerak perlahan, rawa, telaga dan sawah yang tergenang, kelebihan lele untuk habitatnya adalah ikan ini mampu bertahan hidup dan berkembang ditempat yang tercemar seperti got atau selokan, hewan ini termasuk dalam hewan nokturnal yaitu pada siang hari ikan lele lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri dan berlindung ditempat-tempat yang gelap dan baru aktif bergerak pada malam hari untuk mencari makanan. Ikan lele sangat populer dalam kalangan petani budidaya ikan karena permintaan yang cukup banyak terhadap ikan ini, permintaan ini didukung karena ikan lele memiliki manfaat :
• Sebagai bahan makanan
• Ikan lele sebagai ikan pajangan atau ikan hias.
• Ikan lele yang dipelihara di sawah dapat bermanfaat untuk memberantas hama padi berupa serangga air, karena merupakan salah satu makananalami ikan lele.
• Ikan lele juga dapat diramu dengan berbagai bahan obat lain untuk mengobati penyakit asma, menstruasi (datang bulan) tidak teratur, hidung berdarah, kencing darah dan lain-lain.
• Nilai gizi ikan lele termasuk tinggi dan baik untuk kesehatan karena tergolong makanan dengan kandungan lemak yang relatif rendah dan mineral yang relatif tinggi.
• Selain kaya zat gizi, lele juga membantu pertumbuhan janin dalam kandungan dan sangat baik bagi jantung karena rendah lemak.
Dengan manfaat yang ada menjadikan ikan lele ikan yang memiliki nilai jual yang cukup diminati, namun pada umumnya budidaya yang dilakukan adalah untuk pemenuhan ikan lele sebagai bahan makanan, sehingga demikian ikan air tawar yang satu ini menjadi populer dikalangan petani untuk dibudidayakan. http://ikantawar.com/ikan-lele-2/
Lele atau ikan Catfish, adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki "kumis" yang panjang yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya.Lele, secara ilmiah, terdiri dari banyak spesies. Tidak mengherankan pula apabila lele di Nusantara mempunyai banyak nama daerah. Antara lain: ikan kalang (Sumatra Barat), ikan maut (Gayo dan Aceh), ikan sibakut (Karo), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makassar), ikan cepi (Sulawesi Selatan), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah) atau ikan keli (Malaysia).
Sedang di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), gura magura (Srilangka), ナマズ (Jepang) dan 鲇形目 (Tiongkok). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Nama ilmiahnya, Clarias, berasal dari bahasa Yunani chlaros, yang berarti ‘lincah’, ‘kuat’, merujuk pada kemampuannya untuk tetap hidup dan bergerak di luar airIkan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan.Lele dumbo (Clarias gariepinus) adalah sejenis lele budidaya yang berasal dari Afrika. Dibandingkan dengan lele lokal (lele kampung C. batrachus, dan C. macrocephalus) lele dumbo berukuran lebih besar dan patilnya tidak tajam sehingga disukai konsumen. Kelemahannya adalah dagingnya lunak dan mudah hancur bila digoreng.Nama "dumbo" atau Clarias gariepinus diberikan karena ukurannya yang lebih besardaripada rata-rata lele lokal Asia Tenggara Penyebaran ikan lele dumbo secara alami ditemukan di berbagai tempati di Afrika dan timur Tengah. Mereka menyukai air tawar yang tenang serta kubangan buatan manusia, bahkan mampu bertahan hidup dalam saluran air buangan. Ikan ini sekarang dibudidayakan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) sebagai sumber pangan. Persilangannya dengan lele lokal Asia Tenggara telah dilakukan untuk memperbaiki kualitas daging dan telah dibudidayakan dengan nama sama.
Lele adalah ikan budidaya air tawar yang sangat populer. Produksi budidaya meningkat tajam tiap tahun, selama lima tahun terakhir, antara lain karena luasnya pasar bagi lele. Lele disukai konsumen karena berdaging lunak, sedikit tulang, tidak berduri, dan murah. Dari sisi budidaya, lele relatif tidak memerlukan banyak perawatan dan memiliki masa tunggu panen yang singkat.Pengolahan yang paling populer adalah dengan digoreng, dan disajikan sebagai pecel lele. Bentuk pengolahan lain adalah dengan diberi bumbu mangut (mangut lele).
http://lele2010.blogspot.com/2010/01/lele-dumbo.html
Yogyakarta, Tahun 2015 Indonesia ditargetkan sebagai penghasil ikan terbesar di dunia, mengingat potensinya ada dan memungkinkan. Mengenai bagaimana hal itu dapat terealisasi, tergantung pada Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) di Provinsi DIY.
Penegasan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY Ir. Titik Sugiarto ketika membuka Sarasehan Percepatan Produksi Ikan bagi Pokdakan se Provinsi DIY, di ruang Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan, Jalan Sagan, Kotabaru Yogyakarta, Kamis (4/02)..
Didampingi Kepala Bidang Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Ir. Sunardi, lebih lanjut Titik mengemukakan, target tersebut dapat dipenuhi mengingat sektor perikanan budidaya dapat diperbaharui sedangkan perikanan laut tidak. Bahkan untuk penangkapan ikan di laut juga dibatasi.
“Saat ini perikanan budidaya penyumbang produksi 95% ikan di Indonesia, sedang 5% lainnya dari sektor kelauatan,” jelasnya.
Terkait dengan target perikanan budidaya tersebut, saat ini kata Titik, DIY baru bisa mengasilkan produksi sekitar 93 ribu ton pada akhir tahun 2010. Hal itu dapat dicapai jika pembudidaya ikan lama dan pemula bersinergi dengan pemerintah bekerja keras untuk mengembangkan dan meningkatkan produksi.
“Hal ini dapat kita wujudkan dengan merubah pola pikir para petani pembudidaya ikan dengan memberikan pengetahuan ketrampilan yang cukup bagi petani, termasuk teknologi bagi pembudidaya. Sebab kalau kita hanya mengandalkan kepada para pembudidaya lama, paling-paling hanya dapat meningkat menjadi 3 ribu ton, Maka harus ada upaya ekstensifikasi budidaya dan peningkatan bagi pembudidaya pemula,” ujar Titik.
Untuk memenuhi target sebesar 93 ribu ton pada tahun 2010 nanti, Dinas Kelautan dan Perikanan melaksanakan program yang gila, artinya tidak hanya berlari untuk mengejar kekurangan namun harus melompat untuk meningkatkan target yang besar itu. Untuk mencapai program yang gila tersebut kata Titik, telah dimulai dengan budidaya lele lahan pasir dengan terpal/plastik..
“Prosentasinya nanti 60% lele, 20% gurami,,dan 20% nila. Sedang target produksinya Kabupaten Sleman 30%, Kulonprogo, Bantul dan Gunungkidul masing-masing 20%, serta 10% untuk Kota Yogyakarta,” tandas Titik.
Menyinggung ketersediaan lele di DIY, Titik merasa prihatin. Sebab dari kebutuhan lele sekitar 12 ton pembudidaya hanya mampu menyediakan 4 ton, sementara 8 ton sisanya harus mendatangkan dari luar wilayah DIY seperti Boyolali dan daerah lain setiap harinya. Padahal 5 tahun lalu pembudidaya perikanan lele di Boyolali belajarnya di DIY, tetapi berbicara soal produksi pembudidaya ikan lele DIY saat ini kalah dengan Boyolali. Pasalnya para petani pembudidaya di DIY gampang merasa puas jika sudah berhasil, tanpa mau meningkatkan pengetahuan teknologi, tidak seperti daerah lain yang terus meningkatkan produksinya dengan sentuhan teknologi.
“Untuk itu saya minta para petani/pokdakan jangan terlena, setelah berhasil puas begitu saja, tanpa meningkatkan produksi. Akhirnya kejadian seperti sekarang ini, Boyolali menjadi pemasuk lele DIY ya terjadi. Yang lebih mengherankan lagi dahulu Purwokerto itu belajar budidaya di Jogja, tetapi sekarang justru sebaliknya, Purwokerto menjadi pemasuk indukan dan telur gurami bagi DIY. Karena apa, karena petani pembudidaya kita cepat puas,padahal kalau kita cepat puas itu tidak akan maju,” tegas Titik sembari memberikan contoh nyata.
Dalam kegiatan Sarasehan Percepatan Produksi Ikan Bagi Pokdakan, berhasil dibentuk Forum Silaturahmi Pokdakan (FSP) se DIY dengan Susunan Pengurus, Ketua Ing. Sutiono dari Kota Yogyakarta, Wakil Ketua Saptono dari Sleman, Sekretaris I. Bagus Wasito, Msi dan Sekretaris II Suhardi dari Pokdakan Argomino,Nanggulan Kulonprogo. Sedang Bendahara I. Sukardjo dari Bantul, dan Bendahara II Sugiyatno dari Kabupaten Gunungkidul, yang dibantu beberapa bidang.
Tujuan dibentuknya FSP dalam rangka menjembatani pokdakan menghadapi berbagai permasalahan untuk dicarikan solusi di dinas instansi terkait dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(Kar)
http://www.pemda-diy.go.id/
Dari informasi di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengambil judul pengaruh PH terhadap perkembangan embrio telur ikan lele (Clarias sp)
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, penulis mengambil suatu rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu, apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara PH air terhadap perkembangan embrio telur ikan lele (Clarias sp))
1.3 Batasan masalah
pengaruh PH terhadap perkembangan embrio telur ikan lele (Clarias sp)) yang akan diteliti adalah pengaruh pH terhadap cepat lambat perkembangan embrio telur ikan lele (Clarias sp))
I.4 Hipotesis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil hipotesis yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara PH air terhadap proses perkembangan embrio telur ikan lele (Clarias sp).
1.5 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang signifikan antara PH terhadap perkembangan embrio telur ikan lele(Clarias sp).
1.6 Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi tentang pengaruh PH terhadap perkembangan embrio telur ikan lele(Clarias sp)
2. Menjadi pengalaman bagi peneliti untuk mengetahui dunia ikan lele(Clarias sp) karena penulis harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi tentang ikan lele(Clarias sp)
3. Memberikan sumbangan pemikiran untuk dunia perikanan, khususnya dalam budidaya ikan lele(Clarias sp).













BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Tentang Pengaruh
Pengaruh n daya yg ada atau timbul dr sesuatu (orang, benda) yg ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang: besar sekali -- orang tua thd watak anaknya;
berpengaruh v 1 ada pengaruhnya; mempunyai pengaruh: keadaan rumah tangga sangat ~ thd perkembangan watak anak-anak; 2 berkuasa: ia seorang yg kaya dan sangat ~ di negeri itu;
memengaruhi v 1 berpengaruh pd: keadaan batin seseorang akan ~ daya kerjanya; 2 mengenakan pengaruh pd: calo itu berusaha ~ wanita itu agar ia mau menjual mutiaranya;
terpengaruh v terkena pengaruh.
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
2.2 Tinjauan Umum Tentang PH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.[1]
Konsep pH pertama kali diperkenalkan oleh kimiawan Denmark Søren Peder Lauritz Sørensen pada tahun 1909. Tidaklah diketahui dengan pasti makna singkatan "p" pada "pH". Beberapa rujukan mengisyaratkan bahwa p berasal dari singkatan untuk powerp[2] (pangkat), yang lainnya merujuk kata bahasa Jerman Potenz (yang juga berarti pangkat)[3], dan ada pula yang merujuk pada kata potential. Jens Norby mempublikasikan sebuah karya ilmiah pada tahun 2000 yang berargumen bahwa p adalah sebuah tetapan yang berarti "logaritma negatif"[4].
Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimia, biologi, kedokteran, pertanian, ilmu pangan, rekayasa (keteknikan), dan oseanografi. Tentu saja bidang-bidang sains dan teknologi lainnya juga memakai meskipun dalam frekuensi yang lebih rendah.
http://id.wikipedia.org/wiki/PH

pH didefinisikan sebagai minus logaritma dari aktivitas ion hidrogen dalam larutan berpelarut air.[5] pH merupakan kuantitas tak berdimensi.

dengan aH adalah aktivitas ion hidrogen. Alasan penggunaan definisi ini adalah bahwa aH dapat diukur secara eksperimental menggunakan elektroda ion selektif yang merespon terhadap aktivitas ion hidrogen ion. pH umumnya diukur menggunakan elektroda gelas yang mengukur perbedaan potensial E antara elektroda yang sensitif dengan aktivitas ion hidrogen dengan elektroda referensi. Perbedaan energi pada elektroda gelas ini idealnya mengikuti persamaan Nernst:

dengan E adalah potensial terukur, E0 potensial elektroda standar, R tetapan gas, T temperatur dalam kelvin, F tetapan Faraday, dan n adalah jumlah elektron yang ditransfer. Potensial elektroda E berbanding lurus dengan logartima aktivitas ion hidrogen.
Definisi ini pada dasarnya tidak praktis karena aktivitas ion hidrogen merupakan hasil kali dari konsentrasi dengan koefisien aktivitas. Koefisien aktivitas ion hidrogen tunggal tidak dapat dihitung secara eksperimen. Untuk mengatasinya, elektroda dikalibrasi dengan larutan yang aktivitasnya diketahui.
Definisi operasional pH secara resmi didefinisikan oleh Standar Internasional ISO 31-8 sebagai berikut: [6] Untuk suatu larutan X, pertama-tama ukur gaya elektromotif EX sel galvani
elektroda referensi | konsentrasi larutan KCl || larutan X | H2 | Pt
dan kemudian ukur gaya elektromotif ES sel galvani yang berbeda hanya pada penggantian larutan X yang pHnya tidak diketahui dengan larutan S yang pH-nya (standar) diketahui pH(S). pH larutan X oleh karenanya

Perbedaan antara pH larutan X dengan pH larutan standar bergantung hanya pada perbedaan dua potensial yang terukur. Sehingga, pH didapatkan dari pengukuran potensial dengan elektroda yang dikalibrasikan terhadap satu atau lebih pH standar. Suatu pH meter diatur sedemikiannya pembacaan meteran untuk suatu larutan standar adalah sama dengan nilai pH(S). Nilai pH(S) untuk berbagai larutan standar S diberikan oleh rekomendasi IUPAC.[7] Larutan standar yang digunakan sering kali merupakan larutan penyangga standar. Dalam prakteknya, adalah lebih baik untuk menggunakan dua atau lebih larutan penyangga standar untuk mengijinkan adanya penyimpangan kecil dari hukum Nerst ideal pada elektroda sebenarnya. Oleh karena variabel temperatur muncul pada persamaan di atas, pH suatu larutan bergantung juga pada temperaturnya.
Pengukuran nilai pH yang sangat rendah, misalnya pada air tambang yang sangat asam,[8] memerlukan prosedure khusus. Kalibrasi elektroda pada kasus ini dapat digunakan menggunakan larutan standar asam sulfat pekat yang nilai pH-nya dihitung menggunakan parameter Pitzer untuk menghitung koefisien aktivitas.[9]
pH merupakan salah satu contoh fungsi keasaman. Konsentrasi ion hidrogen dapat diukur dalam larutan non-akuatik, namun perhitungannya akan menggunakan fungsi keasaman yang berbeda. pH superasam biasanya dihitung menggunakan fungsi keasaman Hammett, H0.
Umumnya indikator sederhana yang digunakan adalah kertas lakmus yang berubah menjadi merah bila keasamannya tinggi dan biru bila keasamannya rendah
Selain menggunakan kertas lakmus, indikator asam basa dapat diukur dengan pH meter yang bekerja berdasarkan prinsip elektrolit / konduktivitas suatu larutan.
2.3 Tinjauan Umum Tentang Perkembangan
Biologi perkembangan ialah studi proses pertumbuhan dan perkembangan organisme. Biologi perkembangan modern mempelajari kontrol genetik pertumbuhan sel, diferensiasi sel dan morfogenesis, yang merupakan proses yang menimbulkan jaringan, organ dan anatomi. Embriologi merupakan subbidang, studi organisme antara tahap 1 sel (umumnya, zigot) dan akhir tahap embrio, yang tak perlu awal kehidupan bebas. Embriologi awalnya merupakan ilmu yang lebih deskriptif sampai abad ke-20. Embriologi dan biologi pengembangan kini menghadapi bermacam-macam langkah yang diperlukan untuk pembentukan badan organisme hidup yang benar dan sempurna.
Penemuan biologi perkembangan dapat membantu memahami malfungsi perkembangan seperti aberasi kromosom, sebagai contoh, Down syndrome. Pengertian spesialisasi sel selama embriogenesis dapat melindungi informasi pada bagaimana mengkhususkan sel batang pada jaringan dan organ yang spesifik, yang dapat menimulkan kloning spesifik organ untuk tujuan medis. Proses penting secara biologis lainnya yang terjadi selama perkembangan ialah apoptosis - "bunuh diri" sel. Untuk alasan ini, banyak model pengembangan digunakan untuk menguraikan fisiologi dan dasar molekul proses selular ini.
2.4 Tinjauan tentang embrio
Embrio (bahasa Yunani: έμβρυον) adalah sebuah eukariota diploid multisel dalam tahap paling awal dari perkembangan.
Dalam organisme yang berkembang biak secara seksual, ketika satu sel sperma membuahi ovum, hasilnya adalah satu sel yang disebut zigot yang memiliki seluruh DNA dari kedua orang tuanya. Dalam tumbuhan, hewan, dan beberapa protista, zigot akan mulai membelah oleh mitosis untuk menghasilkan organisme multiselular. Hasil dari proses ini disebut embrio.
Pada hewan, perkembangan zigot menjadi embrio terjadi melalui tahapan yang dikenal sebagai blastula, gastrula, dan organogenesis.
Blastula (dari βλαστός Yunani (blastos), yang berarti "tumbuh") adalah tahap awal embrio pembangunan di hewan . Hal ini juga disebut blastosphere.. Hal ini dihasilkan oleh pembelahan yang dibuahi sel telur dan terdiri dari lapisan bola sekitar 128 sel dengan penuh cairan-ruang besar yang disebut blastocoele di kutub hewan embrio. blastula ini mengikuti morula dan mendahului gastrula dalam urutan perkembangan.

Fase Gastrula
Saat blastula terus mengalami pembelahan dan pertambahan jumlah sel, kutub animal akan berusaha membungkus kutub vegetal dengan bergerak dan melakukan invaginasi, yang sering disebut sebagai proses gastrulasi.
Gastrulasi ini berlangsung dengan urutan kronologis sebagai berikut:
1. Pembentukan blastopore (saluran invaginasi)
2. Pembentukan lapisan ektoderm, mesoderm, dan endoderm.
3. Selanjutnya sel bermigrasi dan berkohesi dengan bantuan senyawa cadherin dan integrin

Gastrulasi dari diploblast a: pembentukan lapisan kuman dari (1) blastula ke 2) gastrula. Beberapa sel ektoderm (oranye) memindahkan ke dalam pembentukan endoderm (merah).
Gastrulasi adalah fase awal dalam pengembangan binatang yang paling embrio , selama morfologi embrio ditata ulang untuk membentuk tiga lapisan kuman : ectoderm , mesoderm , dan endoderm. Mekanisme molekuler dan waktu gastrulasi berbeda pada organisme yang berbeda. Gastrulasi diikuti oleh organogenesis , ketika organ individu berkembang dalam yang baru terbentuk lapisan kuman .
Organogenesis adalah proses pembentukan organ atau alat tubuh. Pertumbuhan ini diawali dari pembentukan embrio (bentuk primitif) menjadi fetus (bentuk definitif) kemudian berdiferensiasi menjadi memiliki bentuk dan rupa yang spesifik bagi keluarga hewan dalam 1 species.
Organogenesis terdiri dari 2 periode, yaitu pertumbuhan antara dan pertumbuhan akhir. Selama pertumbuhan terjadi transformasi dan diferensiasi bagian-bagian tubuh embrio dari bentuk primitif menjadi bentuk definitif, yang khas bagi suatu spesies, seperti adanya bentuk katak, ayam atau sapi. Periode pertumbuhan akhir, penyelesaian bentuk definitif menjadi suatu bentuk individu (pertumbuhan jenis kelamin, roman/wajah yang khas bagi individu). Pada aves, reptil, dan mamalia batas antara kedua periode tersebut tidak jelas. Peran asam retinoat dan hormon tiroid sangat diperlukan bagi diferensiasi sel dan organogenesis pada embrio. Ekspresi transporter MCT-8 yang banyak ditemukan pada otak dan plasenta merupakan mediator yang menyerap hormon tiroid dari peredaran darah menuju ke dalam sel, yang diperlukan bagi pertumbuhan neuron, yang diaktivasi oleh asam retinoat.
Pada ikan Pembuahan telur ikan didukung oleh adanya subtansi yang disebut fertilizinyang merangsang spermatozoa untuk mengejar telur yang dikeluarkan oleh ikan betina. Vertilizin tersebut dikeluarkan oleh telur pada saat terakhir ketika telurdilepas dan siap untukdibuahi.
Pembuahan telur dapat dikatakan terjadi jika spermatozoamemasuki telur lewat mikropile. satu spermatozoa sudah cukup untuk membuahi telur. Pembuahan telur ikan berupa masuknya kepala spermatozoa ke dalam sel telur dan ekor spermatozoa tertinggaldi luar. Jika sudah demikian, sitoplasma dan khorion meregang dan semacam sumbat segera menutupmikropile untukmenghalangi masuknya spermatozoa yang lainnya.
Ketika telur sudah bergabung dengan spermatozoa, inti spermatozoa mulai membesar dan kromosom mengalami perubahan, sehingga memungkinkan untuk berhimpun dengan kromosom dari sel telur sebagai fase awal pembelahan. Untuk melindungi embrio, khorion akan mengeras yang disebabkan enzim pengeras yang terdapat pada bagian dalam lapisan khorion.pengerasan khorion sangat berguna untuk melindungi embrio yang masih sangat sensitive pada saat-saat awal atau disebut saat grastulasi.
Setelah proses pembelahan, selanjutnya diikuti oleh perkembangan berupa proses blastulasi, grastulasi, organogenesis sampai pada proses penetasan.
Adapun proses-proses secara terperinci setelah pembuahan terjadiadalah sebagai berikut.
1. proses cleavage; proses pembelahan zygote secara cepat menjadi unit-unit sel kecil yang disebut blastomer.
2. proses blastulasi; proses yang menghasilkan blastula, yaitu campuran sel-sel blastoderm yang membentuk rongga penuh cairan sebagai blastokoel. Pada akhir blastulasi, sel-sel blastoderm akan terdiri atas neural, epidermal,notokhordal, mesodermal,dan entodermal yang merupakan bakal pembentuk organ-organ.
3. proses grastulasi; proses pembelahan bakal organ yang sudah terbentuk pada saat blastulasi. Bagian-bagian yang terbentuk nantinya akan menjadi suatu organ.
4. proses organogenesis; proses pebentukan berbagai organ tubuh secara berturut-turut, antara lain susunan saraf, notochord, mata, somit,rongga kupffer, olfaktorin sac, subnotokhordrod, linen lateralis, jantung, aorta, insang, infundibulum, dan lipatan-lipatan sirip. Berbagai macam organ terbentuk dari beberapa bakal organ yang terbentuk pada waktu grastulasi. Organ-organ notochord, somit, usus, rongga kupffer, dan subnotokhor rod berasal dari endoderm.sedangkan insang, linea lateralis, dan lipatan-lipatan sirip berasal dari ectoderm.


Peristiwa penetasan terjadi jika embrio telah menjadi lebih panjang lingkaran kuning telur dan telah berbentuk perut. Selain itu penetasan telur juda disebabkan oleh gerakan larva akibat temperature, intensitas cahaya, dan pengurangan tekanan tekanan oksigen (Bambang agus).
Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Menurut Effendie (1997), umumnya pertambahan bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad dapat mencapai 10-25 persen dari bobot tubuh dan pada ikan jantan 5-10 persen. Lebih lanjut dikemukakan bahwa semakin rneningkat tingkat kematangan gonad, diameter telur yang ada dalam gonad akan menjadi semakin besar. Pendapat ini diperkuat oleh Kuo et al. (1974) bahwa kematangan seksual pada ikan dicirikan oleh perkembangan diameter rata-rata telur dan melalui distribusi penyebaran ukuran telurnya.
Ikan lele (Clarias batrachus) pertama kali matang kelamin pada umur satu tahun (Chinabut et al. 1991) dengan ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh 100 sampai 200 gram (Mollah dan Tan 1983; Suyanto 1986). Di Thailand, ikan lele yang hidup di alam memijah pada musim penghujan dari bulan Mei sampai Oktober (Chinabut et al. 1991).
Perkembangan sel telur (oosit) diawali dari germ cell yang terdapat dalam lamela dan membentuk oogonia. Oogonia yang tersebar dalam ovarium menjalankan suksesi pembelahan mitosis dan ditahan pada "diploten" dari profase meiosis pertama. Pada stadia, ini oogonia dinyatakan sebagai oosit primer (Harder 1975). Oosit primer kemudian menjalankan masa tumbuh yang meliputi dua fase. Pertama adalah fase previtelogenesis, ketika ukuran oosit membesar akibat pertambahan volume sitoplasma (endogenous vitelogenesis), namun belum terjadi akumulasi kuning telur. Kedua adalah fase vitelogenesis, ketika terjadi akumulasi material kuning telur yang disintesis oleh hati, kemudian dibebaskan ke darah dan dibawa ke dalam oosit secara mikropinositosis (Zohar, 1991; Jalabert dan Zohar, 1982). Peningkatan ukuran indeks gonad somatik atau perkembangan ovarium disebabkan oleh perkembangan stadia oosit.
Pada saat perkembangan oosit terjadi perubahan morfologis yang mencirikan stadianya. Menurut Nagahama (1983) stadium oosit dapat dicirikan berdasarkan volume sitoplasma, penampilan nukleus dan nukleolus, serta keberadaan butiran kuning telur. Berdasarkan kriteria ini, oosit dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelas.Yamamoto dalam Nagahama (1983) membaginya ke dalam 8 kelas, yaitu stadia kromatinNukleolus, perinukleolus (yang terdiri atas awal dan akhir nukleolus), stadium oil drop stadium yolk primer, sekunder, tertier, dan stadium matang. Sedangkan Chinabutetal.(1991)membagi oosit dalam 6 kelas untuk Clarias sp, dimana stadia nukleolus dan perinukleolus dikategorikan sebagai stadium pertama, dan setiap stadium dicirikan sebagai berikut:
-stadium 1 : Oogonia dikelilingi satu lapis set epitel dengan pewarnaan hematoksilin-eosin plasma berwarna merah jambu, dengan inti yang besar di tengah.
-stadium 2 : Oosit berkembang ukurannya, sitoplasma bertambah besar, inti biru terang dengan pewarnaan, dan terletak masih di tengah sel. Oosit dilapisi oleh satu lapis epitel.
-stadium 3 : Pada stadium ini berkembang sel folikel dan oosit membesar dan provitilin nukleoli mengelilingi inti.
-stadium 4 : Euvitilin inti telah berkembang dan berada disekitar selaput inti Stadium ini merupakan awal vitelogenesis yang ditandai dengan adanya butiran kuning telur pada sitoplasma. Pada stadium ini, oosit dikelilingi oleh dua lapis sel dan lapisan zona radiata
tampak jelas pada epitel folikular.
-stadium 5 : Stadia peningkatan ukuran oosit karena diisi oleh kuning telur. Butiran kuning telur bertambah besar dan memenuhi sitoplasma dan zona radiata terlihat jelas.
-stadium 6 : Inti mengecil dan selaput inti tidak terlihat, inti terletak di tepi. Zona radiata, sel folikel, dan sel teka terlihat jelas.
Pengetahuan tingkat kematangan gonad sangat penting dan sangat menunjang keberhasilan dalam membenihkan ikan karena berkaitan erat dengan pemilihan caloncalon induk ikan yang akan dipijahkan. Semakin tinggi tingkat perkembangan gonad, telur yang terkandung di dalamnya semakin membesar sebagai hasil dari akumulasi kuning telur, hidrasi, dan Membentukan butir-butir minyak yang berjalan secara bertahap. Secara garis besar, perkembangan gonad ikan dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pertumbuhan gonad ikan sampai ikan menjadi dewasa kelamin dan selanjutnya adalah pematangan gamet. Tahap pertama berlangsung mulai dari ikan menetas hingga mencapai dewasa kelamin dan tahap kedua dimulai setelah ikan mencapai dewasa, dan terus berkembang selama fungsi reproduksi masih tetap berjalan normal (Lagler et al. 1977).
Tam et al. (1986) menyatakan bahwa pada saat menjelang ovulasi akan terjadi peningkatan diameter oosit karena diisi oleh massa kuning telur yang homogen akibat adanya peningkatan kadar estrogen dan vitelogenin. Sementara itu, menurut Bagenal (1969), ukuran telur juga berperan dalam kelangsungan hidup ikan. Benih ikan brown trout yang berasal dari telur yang berukuran besar mempunyai daya hidup yang lebih tinggi daripada benih ikan yang berasal dari telur yang berukuran kecil. Hal ini terjadi karena kandungan kuning telur yang berukuran besar lebih banyak sehingga larva yang dihasilkan mempunyai persediaan makanan yang cukup untuk membuat daya tahan tubuh yang lebih tinggi dibanding dengan telur-telur yang berukuran kecil.
Woynarovich dan Horvath (1980) menyatakan bahwa induk yang pantas dipijahkan adalah induk yang telah melewati fase pembentukan kuning telur (fase vitellogenesis) dan masuk ke fase dorman. Fase pembentukan kuning telur dimulai sejak terjadinya penumpukan bahan-bahan kuning telur da!am sel telur dan berakhir setelah sel telur mencapai ukuran tertentu atau nukleolus tertarik ke tengah nukleus. Setelah fase pembentukan kuning telur berakhir, sel telur tidak mengalami perubahan bentuk selama beberapa saat, tahap ini disebut fase istirahat (dorman). Menurut Lam (1985), apabila rangsangan diberikan pada saat ini, maka akan menyebabkan terjadinya migrasi inti ke perifer, kemudian inti pecah atau melebur pada saat pematangan oosit, ovulasi (pecahnya folikel), dan oviposisi. Menurut Suyanto (1986), bilamana kondisi lingkungan tidak cocok dan rangsangan tidak tersedia maka telur dorman tersebut akan mengalami degenerasi (rusak) lalu diserap kembali oleh lapisan folikel melalui atresia. Faktor-faktor eksternal lain yang menyebabkan terjadinya atresia adalah ketersediaan pakan (Bagenal 1978), sedangkan faktor internal adalah umur telur. Ukuran sel telur ada hubungannya dengan fekunditas. Makin banyak telur yang dipijahkan ukuran telurnya makin kecil, misalnya ikan cod (diameternya 1-1,7mm) produksinya 10 juta telur. Salmon Atlantik yang memiliki diameter telur 5-6 mm, produksi telurnya 2.000-3.000 butir (Blaxter 1969), sedangkan untuk ikan belut dengan diameter telur 1–1,5 mm produksinya 2.200–5.400 telur (Sidthimunka, 1972).
Sintesis vitelogenin (prekursor kuning telur) di dalam hati disebut vitelogenesis. Vitelogenin diangkut dalam darah menuju oosit, lalu diserap secara selektif dan disimpan sebagai kuning telur. Vitelogenin ini berupa glikofosfoprotein yang mengandung kira-kira 20% lemak, terutama fosfolipid, trigliserida, lipoprotein, dan kolesterol. Berat molekul vitelogenin untuk beberapa jenis ikan diketahui antara 140- 220 kDa (Tyler 1991; Komatsu dan Hayashi 1997).
Proses oogenesis pada teleost terdiri atas dua fase, yaitu pertumbuhan oosit (vitelogenesis) dan pematangan oosit. Vitelogenesis merupakan aspek penting dalam pertumbuhan oosit yang meliputi rangkaian proses (1) adanya sirkulasi estrogen (estradiol-17b) dalam darah menggertak hati untuk mensintesis dan mensekresikan vitelogenin yang merupakan prekursor protein kuning telur; (2) vitelogenin diedarkan menuju lapisan permukaan oosit yang sedang tumbuh; (3) secara selektif, vitelogenin akan ditangkap oleh reseptor dalam endositosis, dan (4) terjadi translokasi sitoplasma membentuk badan kuning telur bersamaan dengan pembelahan proteolitik dari vitelogenin menjadi subunit lipoprotein kuning telur, lipovitelin, dan fosvitin. Adanya vitelogenin menunjukkan terjadinya akumulasi lipoprotein kuning telur di dalam oosit.
Pada beberapa jenis ikan selama pertumbuhan oosit terjadi peningkatan Indeks Somatik Gonad (IGS) 1 sampai 20% atau lebih. Pada ikan betina, ovari berespons terhadap peningkatan konsentrasi gonadotropin dengan meningkatkan secara tidak langsung produksi estrogen, yakni estradiol-17b (E2). Estradiol-17b beredar menuju hati, memasuki jaringan dengan cara difusi dan secara spesifik merangsang sintesis vitelogenin (Ng dan Idler 1983). Aktivitas vitelogenesis ini menyebabkan nilai indeks hepatosomatik (IHS) dan indeks gonadosomatik (IGS) ikan meningkat (Cerda et al. 1996). Pembesaran oosit disebabkan terutama oleh penimbunan kuning telur. Seperti pada kebanyakan ikan, kuning telur merupakan komponen penting oosit ikan Teleostei. Ada tiga tipe material kuning telur pada ikan Teleostei: butiran kecil minyak, gelembung kuning telur (yolk vesicle) dan butiran kuning telur (yolk globule). Secara umum, butiran kecil minyak yang kita kenal dengan lipid yang berantai panjang (asam lemak tidak jenuh) pertama kali muncul di daerah perinuklear dan kemudian berpindah ke periferi (tepi sel) pada tahap selanjutnya. Urutan kemunculan material kuning telur bervariasi antarspesies. Pada rainbow trout, butiran kecil muncul segera setelah dimulainya pembentukan gelembung kuning telur (Yamamoto et al. 1965 dalam Nagahama 1983). Fenomena penimbunan material kuning telur oleh oosit ikan dibagi menjadi dua fase, yakni sintesis kuning telur di dalam oosit atau vitelogenesis endogen dan penimbunan prekursor (bahan pembentuk) kuning telur yang disintesis di luar oosit atau vitelogenesis eksogen (Matty 1985).
Gelembung kuning telur positif-PAS (mukopolisakarida atau glikoprotein) umumnya merupakan struktur yang pertama muncul dalam sitoplasma oosit selama pertumbuhan sekunder oosit, dan pertama kali muncul di zona terluar dan zona midkortikal pada oosit. Ketika vitelogenesis berlangsung, sebagian besar sitoplasma telur matang ditempati oleh banyak gelembung kuning telur yang padat dengan asam lemak dan dikelilingi oleh selapis membran pembatas. Selama tahap akhir vitelogenesis, globula kuning telur beberapa ikan Teleostei bergabung satu sama lain membentuk masa tunggal kuning telur. Perkembangan gonad ikan betina terdiri atas beberapa tingkat yang dapat didasarkan atas pengamatan secara mikroskopis dan makroskopis. Secara mikroskopis perkembangan telur diamati untuk menilai perkembangan ovarium antara lain tebal dinding indung telur, keadaan pembuluh darah, inti butiran minyak, dan kuning telur.
Secara makroskopis perkembangan ovarium ditentukan dengan mengamati warna indung telur, ukuran butiran telur, dan volume rongga perut ikan. Pada ovarium ikan terdapat bakal sel telur yang dilindungi suatu jaringan pengikat yang bagian luarnya dilapisi peritoneum dan bagian dalamnya dilapisi epitelium. Sebagian dari sel-sel epitelium akan membesar dan berisi nukleus, yang kemudian butiran ini kelak akan menjadi telur. Selama perkembangannya, ukuran oosit akan bervariasi. Pada tahap perkembangan awal, oogonia terlihat masih sangat kecil, berbentuk bulat dengan inti sel yang sangat besar dibandingkan dengan sitoplasmanya.
Oogonia terlihat berkelompok tapi kadang-kadang ada juga yang berbentuk tunggal. Sementara itu oogonia terus membelah diri dengan cara mitosis. Pada ikan yang mempunyai siklus reproduksi tahunan atau tengah tahunan akan terlihat adanya puncak-puncak Pembelahan oogonia. Pada ikan yang memijah sepanjang tahun, perbanyakan oogonia akan terus menerus sepanjang tahun. Transformasi oogonia menjadi oosit primer banyak terjadi pada tahappertumbuhan yang ditandai dengan munculnya kromosom. Segera setelah itu, folikel berubah bentuk, dari semula yang berbentuk skuamosa menjadi berbentuk kapsul oosit. Inti sel terletak pada bagian sentral dibungkus oleh lapisan sitoplasma yang tipis. Pada
perkembangan selanjutnya, oosit membentuk lapisan korion, membran, granulosa, membran, dan teka. Juga butir-butir lemak mulai terlihat ditumpuk pada sitoplasma dan bersamaan dengan itu muncul cortical alveoli.

2.5 Ikan lele(Clarias sp)
Ikan Lele adalah satu jenis ikan yang hidup di air tawar ikan, kita dapat dengan mudah mengenali ikan yang satu ini, ikan yang termasuk dalam marga Clarias ini dapat kita kenali dengan bentuk tubuh yang licin memanjang serta sungut yang ada didibagian mulutnya, dan tidak memiliki sisik pada tubuhnya. Ikan lele memiliki bagian kepala yang keras ikan lele memiliki kemampuan untuk bergerak didalam air yang gelap ini dikarenakan ikan lele mempunyai 4 sungut yang dapat berfungsi sebagai peraba, ini mejadikan ikan lele sebagai, lele juga mempunya tambahan alat pernafasan yang biasa kita kenal dengan patil yakni duri tulang yang berada pada sirip dadanya.
Jenis
Klasifikasi ikan lele adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Sub-kingdom : Metazoa
Phyllum : Chordata
Sub-phyllum : Vertebrata
Klas : Pisces
Sub-klas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub-ordo : Siluroidea
Familia : Clariidae
Genus : Clarias
http://ikantawar.com/ikan-lele-2/


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Alat Bahan
1. Toples 3 buah
2. Air tawar
3. Mikroskop listrik
4. Alat tulis
5. Jam
6. Kamera
7. Air asi
8. Kertas label
9. Telur ikan lele(Clarias sp) yang telah dibuahi

3.2 Prosedur
1. Mengisi ketiga buah toples dengan air 1ml.
2. Mengatur PH pada masing-masing toples, toples 1 PH 4,5, toples 2 PH 7,0, toples 3 PH 10,5.
3. Menandai setiap toples dengan kertas label
4. Mengambil telur ikan lele(Clarias sp) yang telah dibuahi dan mengamati dengan menggunakan mikroskop kemudian mencatat hasil pengamatan
5. Mengambil telur ikan lele(Clarias sp) dari tempat pemijahan dan memindahkan ke dalam ketiga toples tersebut. Masing-masing toples diisi 10 buah telur ikan lele(Clarias sp) yang telah dibuahi
6. Setiap 2jam setelah perlakuan ke 5, telur diambil satu dari setiap toples kemudian di amati dengan menggunakan mikroskop
7. Mengulangi perlakuan ke 6 hingga 10 pengamatan dengan mencatat setiap hasil pengamatan dan mengambil gambarnya.






















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
Waktu (jam)
no Waktu (jam) Telur pada pH 4,5 Telur pada pH 7,0 Telur pada pH 10,5
0 10.00 Berwarna kuning kehitaman, dengan warna kuning terkumpul pada satu titik sebelah pinggir Berwarna kuning kehitaman, dengan warna kuning terkumpul pada satu titik sebelah pinggir Berwarna kuning kehitaman, dengan warna kuning terkumpul pada satu titik sebelah pinggir
1 12.00 Warna kuning yang berkumpul tadi mulai menyebar ke sekitar bagian yang bening Warna kuning masih terlihat berkumpul Warna kuning mulai menyebar tetapi masih terlihat sedikit
2 14.00 Sebaran kuning telur terlihat semakin banyak Warna kuning pada telur mulai menyebar tetapi masih dalam jumlah sedikit Warna kuning pada telur menyebar mulai terlihat lebih banyak dari sebelumnya
3 16.00 Sebaran terlihat lebih banyak dan terlihat dengan bentuk yang tidak teratur Masih sama dengan sebelumnya Masih sama dengan sebelumnya
4 18.00 Sebaran kuning mulai memadat membentuk lingkaran ke tepi dalam telur dengan bagian tengah yang mulai terlihat bening Sebaran kuning telur terlihat semakin banyak Sebaran terlihat lebih banyak dan terlihat dengan bentuk yang tidak teratur
5 20.00 Terlihat terdapat bagian yang lebih besar dan bagian kecil yang mengelilingi tepi dalam telur dengan warna yang tidak lagi terlihat kuning, tetapi lebih bening Masih sama dengan sebelumnya Sebaran kuning mulai memadat membentuk lingkaran ke tepi dalam telur dengan bagian tengah yang mulai terlihat bening
6 22.00 bagian yang terlihat pada no 6 terlihat di dalamnya terdapat bentuk seperti tulang dengan warna putih Sebaran terlihat lebih banyak dan terlihat dengan bentuk yang tidak teratur Terlihat terdapat bagian yang lebih besar dan bagian kecil yang mengelilingi tepi dalam telur dengan warna yang tidak lagi terlihat kuning, tetapi lebih bening, tetapi kurang jelas bentuknya
7 24.00 Bagian yang tersebut terlihat lebih jelas Sebaran kuning mulai memadat membentuk lingkaran ke tepi dalam telur dengan bagian tengah yang mulai terlihat bening Gambaran pada no 6 terlihat lebih jelas
8 01.00 Bagian yang terlihat pada no 7 terlihat panjang melingkar dengan warna lebih jelas bagian yang terlihat pada no 7 terlihat di dalamnya terdapat bentuk seperti tulang dengan warna putih bagian yang terlihat pada no 6 terlihat di dalamnya terdapat bentuk seperti tulang dengan warna putih
9 03.00 Terlihat ada gerakan gerakan pada bagian yang berbentuk larva, dan gerakan semakin cepat Bagian yang tersebut terlihat lebih jelas Masih sama dengan sebelumnya
10 05.00 Larva dengan bagian gelembung bening pada bagian perutnya bergerak melepaskan diri dari lingkaran bening yang menyelimutinya Bagian yang terlihat pada no 7 terlihat panjang melingkar dengan warna lebih jelas Terlihat ada gerakan gerakan pada bagian yang berbentuk larva, dan gerakan semakin cepat


4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan data hasil penelitian pengaruh PH terhadap perkembangan embrio telur ikan lele (Clarias sp) menunjukan bahwa pH mempunyai pengaruh terhadap perkembangan embrio ikan lele. Data dari hasil penelitian menunjukan bahwa pada pH 4,5 embrio ikan lele lebih cepat berkembang dari pada embrio pada pH 10,5 dan pada pH 10,5 embrio ikan lele lebih cepat berkembang dari pada embrio ikan lele pada pH 7,0.






















BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil penelitian yang penulis lakukan mengenai pengaruh PH terhadap perkembangan embrio telur ikan lele(Clarias sp), bahwa PH mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan embrio telur ikan lele(Clarias sp). Hal ini ditunjukkan dengan perbedaan perkembangan embrio telur ikan lele(Clarias sp) pada PH 4,5 PH 7,0 dan PH 10,5.

5.2 Saran
Setelah mengambil kesimpulan dari penelitian ini, penulis menyarankan hendaknya para pembudidaya ikan lele(Clarias sp) memperhatikan kadar PH air dalam mengembangkan embrio telur ikan lele(Clarias sp). PH hendaknya berada dibawah netral yaitu 4,5 supaya telur ikan lele(Clarias sp) supaya embrio dapat berkembang dengan baik.












DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2001. Tantangan Bisnis Cupang Hias. Trubus 381.
Afandi, R. & Tang, U.M. 2000. Biologi Reproduksi Ikan. Laporan. Pekanbaru: Pusat Penelitian Kawasan Pantai dan Perairan.
Efendi, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan Pustaka Nusantara.
Hosken, J.D. 1998. Sperm fertility and skewed paternity during sperm competition in the Australian long eared but. J. of Zoology 245: 93-100.
Kottelat, Whitten, J.A., Wirjoatmodjo, S. & Kartikasari.1996. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Jakarta: Periplus.
Nagy, A., Bercsenyi, M. & Csenyi, V. 1981. Sex reversal in corp Cyprinus caprio by oral administration of metthytestosteron. Canadian Journal of Fisheries & Aquatic Science 38: 725-728.
Perkasa, B.E. 2001. Budidaya Cupang Hias dan Adu. Jakarta: Penebar Swadaya.
Susanto, H. & Lingga, P. 1997. Ikan Hias Air Tawar. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sugandy, I. 2002. Budidaya Cupang Hias. Jakarta: Argo Media Pustaka.
Suseno. 1983. Suatu perbandingan antara pemijahan alami dengan pemijahan tripping ikan mas Cyprinus carpio. L.terhadap derajat fertilitas dan penetasan telurnya. Tesis Magister Fakultas Pascasarjana Perikanan. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Syandri, H.1996. Aspek reproduksi ikan bilih Mystacolecus padangencis. Disertasi Program Pasca Sarjana Fakultas Perikanan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Yustina & Arnentis. 2002. Aspek reproduksi ikan kapiek (Puntius schwanefeldi Bleeker) di sungai Rangau-Riau, Sumatra. Jurnal Matematika dan Sains ITB 7: 5-14

WEB
http://lele2010.blogspot.com/2010/01/lele-dumbo.html
http://www.pemda-diy.go.id/
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
http://id.wikipedia.org/wiki/PH




















DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Tinjauan umum tentang perkembangan……………………………………………….. 8






















DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Hasil Penelitian………………………………………………………………………….23























LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar