Senin, 09 Mei 2011

PENGARUH DETERGEN TERHADAP DAYA TETAS TELUR KODOK

PENGARUH DETERGEN TERHADAP DAYA TETAS TELUR KODOK


ANDINI
( A1C409021 )










PROGRAM STUDI BIOLOGI
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2010 / 2011






DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN …………………....…………. i
DAFTAR ISI ………………………………………………………....… ii
DAFTAR GAMBAR ……………………………..…………….…… iii
I. PENDAHULUAN ………………………………..………………..... 1
1.1 Latar Belakang ………………………………..……..…………… 1
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………. ………….. 2
1.3 Hipotesis sementara (Dugaan Sementara)…………………… ...…... 3
1.4 Tujuan Hasil Penelitian …………………………………………... 4
1.5 Mamfaat Hasil penelitian …………………………………………. 4
II. KAJIAN PUSTAKA ………………………………………………….. 5
2.1 Morfologi Kodok ………………………………………………….. 5
2.2 Reproduksi kodok ………………………………………………..... 5
2.3 Pengendalian Telur Kodok ………………………………………… 7
2.4 Komposisi Detergen ……………………………………………… 8
2.5 Pengaruh Detergen ………………………………………………… 9
III. METODE PENELITIAN ……………………………………………... 12
3.1 Alat dan Bahan …………………………………………………….. 12
3.2 Prosedur Kerja ……………………………………………………... 12
IV. HASIL DAN EMBAHASAN ………………………........................... 13
4.1 Hasil ………………………………………………………………... 13
4.2 Pembahasan ………………………………………………………... 15
V. PENUTUP ……………………………………………………...……... 17
5.1 Kesimpulan …………………………………………………..……. 18
5.2 Saran ……………………………………………………………..… 18
VI. DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………… 19




















DAFTAR GAMBAR


Gambar Halaman
1.1 ( Kodok ) …………………………………………………………. 1
1.2 ( Metamorfosis Kodok ) ………………………………………….. 2
1.3 ( Detergen ) …………………………………………….................. 3
1.4 ( Gelas Berisi telur kodok sebagai kontrol ) ……………….……... 13
1.5 ( Gelas berisi telur kodok dengan detergen 0,8mg )...………............ 13
1.6 ( Gelas berisi telur kodok dengan detergen 1,6mg ) ..………............ 14
1.7 ( Gelas berisi telur kodok dengan detergen 2,4mg ) ………..………. 14
1.8 ( Telur katak yang telah menetas ) …………………..……………… 14























BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada Karya Ilmiah ini saya memilih judul “PEngaruh etergen Terhadap Daya Tetas Telur Kodok”. Dalam hal ini kita akan mengetahui apa saja yang mempengaruhi cepat lambat tetas telur kodok. Seperti yang kita tau kodok adalah hewan amfibia yang paling dikenal orang di Indonesia. Kodok bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak berekor (anura). Kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang. Kodok berukuran sedang, yang dewasa berperut gendut, berbintil-bintil kasar. Bangkong jantan panjangnya (dari moncong ke anus) 55-80 mm, betina 65-85 mm. Di atas kepala terdapat gigir keras menonjol yang bersambungan, mulai dari atas moncong
Kodok hidup menyebar luas, terutama di daerah tropis yang berhawa panas. Makin dingin tempatnya, seperti di atas gunung atau di daerah bermusim empat (temperate), jumlah jenis kodok cenderung semakin sedikit. Salah satunya ialah karena kodok termasuk hewan berdarah dingin, yang membutuhkan panas dari lingkungannya untuk mempertahankan hidupnya dan menjaga metabolisme tubuhnya. Hewan ini dapat ditemui mulai dari hutan rimba, padang pasir, tepi-tepi sungai dan rawa, perkebunan dan sawah, hingga ke lingkungan pemukiman manusia. Kodok membela diri dengan melompat jauh, mengeluarkan lendir dan racun dari kelenjar di kulitnya. Penelitian ini juga agar kita dapat mengetahui beda tekur kodok dengan telur katak.




1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana pengaruh detergen terhadap daya tetas telur kodok ?
2. Apa – apa saja yang mempengaruhi daya tetas telur kodok ?
3. Apa-apa saja zat yang terdapat di dalam detergen ?
































1.3 Hiotesis Sementara

Setelah melakukan penelitian selama 5 hari , dugaaan yang di dapat untuk sementara ini adalah lambatnya telur katak yang menetas di dalamg gelas A, B, C dibandingkan telur katak yang ada didalam gelas kontrol. Telur pada gelas control menetas pada hari ke empat, sedangkan telur kodok yang diberi detergen seperti blum ada tanda-tanda menetas. Hal ini memungkinkan terjadi dua kemungkinan yaitu telur kodok menetas lambat dan telur kodok mati.
Dari hal itu mungkin disebabkan oleh banyak sedikitnya detergen yang dimasukkan kedalam gelas, Karena apabia terlalu banyak detergen yang berlebih atau tidak sesuai dengan banyaknya air yang d berikan.
Untuk sementara akan diamati lagi apa yang akan terjadi pada telur kodok yag telah dibei konsentrasi detergen.




















1.4 Tujuan Hasil Sementara


1. Untuk mengethui perbedaan antar telur kodok dan telur katak
2. Untuk mengetahui pengaruh Detergen terhadap daya tetas telur katak.
3. Untuk mengetahui berbagai pengaruh detergen dengan berbagai macam konsentrasi yang diberikan
4. Untuk mengetahui perbedaan penetasan yang menggnakan air kolam dan air yang di larutkan dengan detergen.
5. Untuk mengetahui Daya tahan telur kodok terhadap larutan detergen.


1.5 Manfaat Hasil Penelitian

1. Kita dapat mengetahui pengaruh detergen tehadap daya tetas telur kodok
2. Kita dapat belajar bagaimana memberikan konsentrasi terhadap larutan.
3. Kita mengetahui berapa lama telur kodok menetas dan perbedaannya yang diberi larutan.













BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Kodok
Kodok bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak berekor (anura: a tidak, ura ekor). Kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang. Sebaliknya katak atau bangkong berkulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya sering pendek saja, sehingga kebanyakan kurang pandai melompat jauh. Namun kedua istilah ini sering pula dipertukarkan penggunaannya. ( Adnan.2007:71)









2.2 Reproduksi Kodok
Kodok kawin pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau pada ketika menjelang hujan. Pada saat itu kodok-kodok jantan akan berbunyi-bunyi untuk memanggil betinanya, dari tepian atau tengah perairan. Beberapa jenisnya, seperti kodok tegalan (Fejervarya limnocharis) dan kintel lekat alias belentung (Kaloula baleata), kerap membentuk ‘grup nyanyi’, di mana beberapa hewan jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan. Pembuahan pada kodok dilakukan di luar tubuh. Kodok jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat yang bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina. ( Adnan.2007:43)






Pada saat bereproduksi katak dewasa akan mencari lingkungan yang berair. Disana mereka meletakkan telurnya untuk dibuahi secara eksternal. Telur tersebut berkembang menjadi larva dan mencari nutrisi yang dibutuhkan dari lingkungannya, kemudian berkembang menjadi dewasa dengan bentuk tubuh yang memungkinkannya hidup di darat, sebuah proses yang dikenal dengan metamorfosis. (Anonim.2008:1)

Kodok mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Beberapa jenis kodok pegunungan menyimpan telurnya di antara lumut-lumut yang basah di pepohonan. Sementara jenis kodok hutan yang lain menitipkan telurnya di punggung kodok jantan yang lembab, yang akan selalu menjaga dan membawanya hingga menetas bahkan hingga menjadi kodok kecil.Sekali bertelur katak bisa menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun. (Anonim.2008:1)

2.3 Pengendalian Telur Kodok

Kegiatan pengendalian gangguan kodok dengan cara membuang telur-telurnya juga sangat dianjurkan. Telur yang terlanjur menetas akan menimbulkan efek sebagaimana dibahas sebelumnya. Untuk lebih mudahnya, gunakan seser untuk mengumpulkan telur ke dalam baskom. Selanjutnya buang telur-telur tersebut di darat agar tidak jadi menetas.
Cara yang paling tepat namun butuh waktu dan kesabaran adalah pemberantasan kodok secara mekanis. Tangkap kodok yang terdapat di kolam kemudian bunuh atau pindahkan ke tempat lain. Selain itu, jika menemukan telur kodok agar segera di¬buang dan tindakan ini dilakukan secara rutin. Telur dapat diserok dengan scoopnet (tangguk kecil) dari bahan kain kassa. Telur yang diangkat dari air akan langsung mati bila terpapar sinar matahari. ( Lewis,1991:1)

2.4 Komposisi Detergen
Saat ini penggunaan deterjen sebagai bahan pencuci dalam rumah tangga sudah sangat luas. Pemakaian terus-menerus setiap hari menyebabkan jumlah deterjen yang masuk ke perairan semakin meningkat. Hasil pemantauan kualitas air di Kali Mas yang dilakukan Perum Jasa Tirta pada tahun 1995 menunjukkan kadar deterjen yang tinggi, tidak memenuhi baku mutu kualitas air (0,82-1,43 mg/l), yaitu ratarata 1,91 mg/l. (Retnaningdyah.1999:1)





Deterjen yang banyak digunakan karena sifatnya yang dapat didegradasi secara biologis. Penggunaan deterjen yang luas menyebabkan deterjen dapat ditemukan dalam air sungai, air minum, sedimen, dan tanah . Kadar deterjen yang tinggi dalam perairan bersifat toksik pada organisme perairan sehingga dapat menimbulkan gangguan pada ekosistem perairan Pada embrio yang sedang berkembang efek teratogenik deterjen akan menghambat keberhasilan telur menetas menjadi larva serta ketahanan hidup larva. (Anderson.1978:54)
Komposisi Deterjen Dari penjelasan tentang cara kerja deterjen, disimpulkan komponen penting deterjen adalah surfaktan. Fungsi surfaktan sekali lagi adalah untuk meningkatkan daya pembasahan air sehingga kotoran yang berlemak dapat dibasahi, mengendorkan dan mengangkat kotoran dari kain dan mensuspensikan kotoran yang telah terlepas. Surfaktan yang biasa digunakan dalam deterjen adalah linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat, etoksilat, senyawa amonium kuarterner, imidazolin dan betain. Linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat bila dilarutkan dalam air akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif, memiliki daya bersih yang sangat baik, dan biasanya berbusa banyak biasanya digunakan untuk pencuci kain dan pencuci piring. ( Anonim.2001:1)

2.5 Pengaruh Detergen
Pengamatan perkembangan embrio dilakukan pada stadia 4 sel, 8 sel, 16 sel, blastula, gastrula, neurula, kuncup ekor, dan saat menetas (hatching). Persentase telur yang normal dan abnormal pada setiap stadia dihitung dan bentuk-bentuk respon morfologis berupa abnormalitas perkembangan embrio pada perlakuan berbagai konsentrasi deterjen LAS yang nampak pada setiap stadia juga diidentifikasi untuk membandingkan perkembangan embrio perlakuan dengan embrio normal (kontrol). Hasil pengamatan disertai dengan gambar foto. Untuk melihat perbedaan perkembangan oleh pengaruh perlakuan dilakukan analisis secara statistic. (Bressan dkk., 1991)


Deterjen tidak berpengaruh pada perkembangan embrio pada stadia ini karena
terdapatnya lapisan-lapisan yang melindungi telur dari pengaruh lingkungan sekitarnya, yaitu lapisan bungkus gelatin dan pembungkus vitellin yang masih mampu menghambat penetrasi deterjen. Selain itu adanya sifat totipotent (Yatim, 1994) yang memungkinkan bila terpapar zat yang berbahaya, sel embrio yang masih hidup akan menggantikan sel yang rusak atau mati, hingga berkembang menjadi embrio yang normal. Sel-sel yang terbentuk dari beberapa pembelahan yang pertama ini sebagian besar secara morfologi dan aktifitas sintesisnya tidak di spesialisasikan, jadi jika terjadi kerusakan dan kematian akan dapat digantikan oleh sel yang sama. Rata-rata persentase embrio abnormal yang dihasilkan dari perlakuan deterjen pada tiap stadia terlihat bahwa terjadinya embrio abnormal dimulai pada stadia gastrula, kemudian makin meningkat pada stadia neurula, dan tidak terjadi peningkatan pada stadia selanjutnya sampai menetetas. (Carlson, 1996)
Neurulasi merupakan periode yang sensitive sebagaimana pada stadia gastrula, karena merupakan proses awal organogenesis yang menurut Anderson dan D’Appolonia (1978) merupakan periode sensitif yang sangat rentan terhadap zat teratogen. Periode ini merupakan tahap kritis untuk timbulnya cacat struktural, karena terjadinya pemisahan kelompok sel dan jaringan untuk membentuk organ. Abnormalitas embrio yang terjadi adalah masih adanya sisa sumbat yolk di bagian blastopor yang seharusnya pada stadia neurula sudah tidak ada, karena pada akhir gastrulasi yolk sudah masuk kedalam dan embrio dikelilingi oleh ektoderm. Gambar embrio yang normal dan abnormal pada stadia neurula. Pada stadia kuncup, ekor embrio dalam proses organogenesis untuk pembentukan organ-organ yang dibutuhkan setelah hatching. insang luar dan alat penghisap serta proses pembentukan kuncup ekor yang diiringi dengan pemanjangan tubu. Walaupun demikian tidak ada kenaikan rata-rata persentase embrio yang abnormal dan pengaruh berbagai konsentrasi perlakuan terhadap terjadinya abnormalitas embrio. Hal ini juga terjadi pada stadia neurula. (Anonim.2008:1)

Embrio stadia kuncup ekor yang tidak normal dapat diamati dari ukuran tubuhnya yang lebih kecil dibandingkan yang normal. Abnormalitas yang lain tidak dapat diamati karena pada stadia ini belum terbentuk organorgan yang bentuknya dapat diamati. Terdapat perbedaan yang nyata pengaruh perlakuan deterjen terhadap abnormalitas berudu saat menetas. (Anonim.2009:1)





























BAB III METODE DAN BAHAN


3.1 Alat dan Bahan

1. Gelas plastk 4 buah
2. Detergen
3. Gelas Ukur
4. Kertas Label
5. Sendok
6. Air Kolam
7. Mangkok
8. Telur Kodok

3.2 Prosedur Kerja

1. Telur kodok masing-masing dimasukkan kedalam gelas plastik
2. - Gelas A masukkan detergen sebanyak 0,8 mg kedalam 1 liter air
- Gelas B masukkan detergen sebanyak 1,6 mg kedalam 1 liter air
- Gelas C masukkan detergen sebanyak 2,4 mg kedalam 1 liter air
- Gelas D masukkan air kolam sebagai kontrol
3. Perhatikan perubahan yang terjadi pada telur kodok dari hari ke hari sampai telur kodok menetas menjadi kecebong.
4. Amati dan catat perbedaannya.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian karya ilmiah saya yang berjudul “Pengaruh Detergen Terhadap Daya Tetas Telur Kodok” dengan pemberian berbagai kosentrasi yang diberikan terhadap telur kodok. Banyaknya konsentrasi yang di berikan adalah Deterjen yang dicampur dengan air sumur konsentrasi 0,8 mg/l, 1,6 mg/l, dan 2,4 mg/ dan sebagai air kontrol adalah air kolam. Ini lah hasil dari penelitian yang telah dilakukan :

1. Telur kdok sebagai kontrol yang menggunakan air kolam




Gambar 1.4 Gelas kontrol

2. Telur kodok pada gelas A yang dimasukkan Detergen sebanyak 0,8 mg/l




Ga mbar 1.5 Gelas A



3. Telur Kodok pada gelas B dimasukkan Detergen sebanyak 1,6 mg/l




Gambar 1.6 Gelas B

4. Telur kodok pada gelas C dimasukkan Detergen sebanyak 2,4 mg/l




Gambar 1.7 Gelas C
Setelah 3 hari kemudian telur kodok yang berada dalam gelas kontrol menetas,





Gambar 1.8 Telur kodok menetas


4.2 Pembahasan
Detergen tidak menurunkan daya tetas embrio kodok, tetapi semakin tinggi konsentrasi deterjen persentase kematian berudu juga meningkat. Abnormalitas perkembangan embrio katak dapat digunakan sebagai indikator biologis terjadinya pencemaran deterjen yang digunakan. Kadar deterjen yang tinggi dalam perairan bersifat toksik pada organisme perairan sehingga dapat menimbulkan gangguan pada ekosistem perairan
Pada embrio yang sedang berkembang efek teratogenik deterjen akan menghambat keberhasilan telur menetas menjadi larva serta ketahanan hidup telur kodok. Pada konsentrasi lebih dari 0,45 ppm, Detergen mempengaruhi gastrulasi dalam pembentukan skeleton embrio telur kodok. Detergen juga menyebabkan gangguan perkembangan embrio telur kodok dalam pembentukan blastomer. Deterjen juga berpengaruh pada daya tetas dan ketahanan hidup telur kodok tersebut.
Hal yang terjadi pada Gelas A,B,dan C yang telah diberikan Detergen dengan berbagai macam konsentrasi adalah terhambatnya penetasan telur akibat pengaruh zat-zat yang ada pada Detergen.





BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Kodok bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak berekor.
2. Kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang. Sebaliknya katak atau bangkong berkulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya
3. Pada saat bereproduksi katak dewasa akan mencari lingkungan yang berair. Disana mereka meletakkan telurnya untuk dibuahi secara eksternal
4. Penggunaan deterjen yang luas menyebabkan deterjen dapat ditemukan dalam air sungai, air minum, sedimen, dan tanah
5. Pada embrio yang sedang berkembang efek teratogenik deterjen akan menghambat keberhasilan telur menetas
6. Didalam detergen terdpat berbagai zat, salah satunya Surfaktan,
7. Fungsi surfaktan sekali lagi adalah untuk meningkatkan daya pembasahan air sehingga kotoran yang berlemak dapat dibasahi, mengendorkan dan mengangkat kotoran dari kain dan mensuspensikan kotoran yang telah terlepas
8. Detergen tidak menurunkan daya tetas embrio kodok, tetapi semakin tinggi konsentrasi deterjen persentase kematian berudu juga meningkat. Abnormalitas
9. Pada embrio yang sedang berkembang efek teratogenik deterjen akan menghambat keberhasilan telur.
10. Detergen juga menyebabkan gangguan perkembangan embrio telur kodok dalam pembentukan blastomer.

5.2 Saran
Karya Ilmiah semacam ini sangat berguna bagi Mahasiswa dalam melakukan penelitian. Diharapkan dalam membuat karya ilmiah agar dapat lebih mengerti cara membuat karya ilmiah yang baik dan benar dengan menggunakan tatanan kata yang benar pula.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar